Kamar Terbuka, Kamar Tertutup

Jogja – Bandung

Suatu hari, beberapa tahun lalu, saya main ke kos seorang saudara di Bandung. Waktu itu saya masih kuliah, di Jogja. Kos saudara saya ini khusus cewek, tapi tamu pria boleh masuk (belakangan saya tahu boleh nginep juga.. *asal ndak ketahuan yang jaga). Setelah melewati beberapa kamar, saya tertegun, ada beberapa kamar yang terlihat ada sepatu atau sandal lelaki di luarnya, dengan pintu tertutup. Spontan saya berbisik ke saudara saya “Ini ada cowok ya di dalam?”. Dengan santai dia jawab, “Iya kali.. Biasa itu mah.”.

Mungkin sebagian dari anda heran, kenapa saya mesti heran. Waktu itu masih tahun pertama saya kuliah, dan saya masih fresh dari “daerah” (istilah orang Jakarta untuk orang dari luar pulau Jawa :D ). Bagi kultur saya, hal itu agak “janggal”. Terlebih saat itu juga saya anak kos, di Jogja. Di daerah kos – kosan saya, kulturnya serupa dengan kultur di daerah saya. Jadi, kalau di kos – kosan cewek, ada tamu cowok masuk ke kamar, secara otomatis mengikuti aturan tak tertulis “maka pintu wajib terbuka”. Begitu juga sebaliknya, untuk kos cowok yang didatangi tamu cewek.

Saya waktu itu berbisik lagi ke saudara saya dengan polos, “Kok pintunya ditutup ya?”. Dijawab juga dengan polos, “Lha kalau dibuka ya malu lah.. Keliatan dong lagi ngapa – ngapain. Hahaha..”. Terbalik rasanya dengan yang saya pahami kalau itu terjadi di Jogja.

Jakarta

Sekarang saya masih jadi anak kos juga, tapi di Jakarta. Untuk masuk ke kamar saya, melewati beberapa kamar. Sambil lewat, sekilas saya melihat sebuah kamar yang pintunya terbuka. Kamar ini yang menghuni cewek, baru semingguan. Saya melewatinya sambil iseng melirik ke dalam (kepo..), ternyata ada tamunya, cowok. Saya ingat beberapa hari lalu juga pernah pintunya terbuka lebar, ada tamu cowok juga. Sambil melewatinya saya berujar dalam hati, “Lah.. si mbak ini, ada tamu cowok kok pintunya dibuka sih. Tutup aja lah..”.

Bukan kos saya saja yang berubah, sepertinya saya juga berubah. Entah kenapa.

Catatan: Ndak semua kos – kosan di Jogja seperti saya ceritakan tadi. Itu hanya di daerah sekitar kampus saya saja.

Krisis Keuangan di Amerika itu Sebenarnya Gimana Sih? Ini Dia

Tags: , ,

Dulu saya mendapat informasi sepotong – sepotong soal kenapa ada Occupy Wallstreet (demo dimana – mana di Amerika), terus krisis keuangan di Amerika tahun 2008 silam (dan sekarang sepertinya terjadi lagi). Jadi kebanyakan nebak – nebak juga (dari hasil baca koran, nonton film dokumenter, dll). Nah animasi ini semakin memperjelas bagaimana semua proses itu terjadi.

Selamat menonton.

The Crisis of Credit Visualized – HD

[UPDATE]
Ada juga satu film full yang membahas tentang krisis ekonomi Amerika tahun 2008 tersebut, lebih detail lagi, lengkap dengan wawancara dengan pihak – pihak yang terlibat langsung. Saya tonton sekitar bulan Agustus lalu. Tadi malam mau nulis juga tapi lupa judulnya, baru inget lagi judulnya dari komentar di bawah : Inside Job. *terima kasih om Affan telah mengingatkan saya kembali :)

Di film Inside Job ini banyak istilah, nama – nama (perusahaan, orang), dan konsep yang mungkin tidak begitu populer di kalangan awam. Saya sendiri sempat mengulangi beberapa bagian untuk bisa mencernanya (dan sekarang pun lupa lagi) hahaha.. Animasi seperti di atas itu ada juga di film ini, tapi lebih detail seingat saya.

Indonesia di Front Page Reddit.com

Jarang – jarang berita tentang Indonesia nyampe di  halaman depan Reddit, kalaupun ada biasanya bukan bernuansa positif. Hari ini sepertinya begitu juga.

*klik gambar untuk masuk ke tautan di Reddit

Manajemen vs Pernak – Pernik

Tags: ,

Sebuah perusahaan bisa memiliki komputer yang baru, meja kerja yang baru, kursi yang ergonomis, atau malah kantor baru sekalian, ditambah aneka permainan digital yang mengasyikkan.

Tetapi jika kultur, kebiasaan organisasi dan manajemen yang berantakan -nya tetap saja berlangsung, percuma.

Tapi ya.., selama manajemen yang berantakan itu secara de-facto tetap menghasilkan pundi – pundi uang yang nilainya tidak sedikit, apa mau dikata. Pada dasarnya ini adalah bisnis, yang obyektif nya adalah di akhir tiap periode, saldo di rekening perusahaan harus makin bertambah.

Profil Tech-Biz (mobile, internet, games) di Indonesia dan China

Tags: , , , , , ,

Heboh dengan Blackberry dan iPhone padahal duit yang sebenarnya berasal dari featured phone, henpon – henpon dibawah 1jt-an, karena kelas “elit” ndak mau beli barang digital, udah pinter cari gratisan. Lagian persentasi pengguna henpon low-end & featured phone itu 80% lebih dari seluruh pengguna henpon di Indonesia.

Kurang lebih begitu yang saya tangkap dari Andy Zain sewaktu dia jadi pembicara di salah satu seminar (CMIIW). Dan saya mengganguk setuju dalam hati waktu itu.

Tadi ketemu tulisan ini, membahas tentang “dua sisi” tech-biz di China, dan jika disandingkan dengan materi Andy Zain tadi, sepertinya memang kondisi market Indonesia dan China mirip. Saya rasa kalau di Indonesia ada yang menggali lebih dalam, hasilnya bakal sama seperti tulisan ini.

Enjoy : http://techrice.com/2011/06/07/the-story-of-wl-chinas-great-internet-divide/

Sebelas Sebelas Sebelas

Diposting tepat pukul 11.11 tanggal 11/11/’11.  #abaikan

Btw, blog ini sudah berusia 7 tahun ternyata.. #abaikanlagi

Auto Completion “Kenapa …” di Google

:D

Spesialisasi di Industri Web (Indonesia)

Tags: , , , , , , , ,

Membuat website itu sendiri paling basicnya, sudah butuh beberapa teknologi, sebut saja :

  • Web server (Apache/Nginx/Tornado, dll)
  • Database server (MySQL/CouchDB/MongoDB, dll)
  • Server side programming (PHP/Python/Ruby, dll)
  • HTML

Jadi.., untuk bisa bikin satu web utuh, anda harus memahami 4 jenis teknologi itu. *Eh, ini konteksnya menggunakan tool – tool yang open ya.., bukan pake tool2 enterprise ala Visual Studio, dkk itu.. Agak beda sepertinya, CMIIW.

Nah, dulu.., kalau bisa ke-empat hal ini sudah bagus. Tapi makin lama tuntutannya bertambah. Jadi seperti ini :

  • OS (biasanya Linux, karena biasanya Apache, Nginx, Tornado dkk itu jalannya emang untuk di *NIX platform)
  • Web Server
  • Database Server
  • Server Side Programming
  • HTML
  • CSS & JavaScript

Lalu berkembang lagi jadi begini :

  • OS (ini bisa install OS, konfigurasi OS + install (compile) software + konfigurasi lho ya..)
  • Web Server
  • Database Server
  • Server Side Programming + Framework (CodeIgniter/Django/Pylons, dll)
  • HTML
  • CSS & JavaScript + JavaScript Framework (JQuery/Mootools, dll)
  • API (Facebook/Twitter, dll)

T : Beuhh.. banyak aje om?? Segitu yang harus dikuasai baru bisa jadi web progremer?

J : Ho oh..

T : Berarti rate web-developer makin lama makin tinggi dong ya? Kan spec nya makin rame aja tuh.. (baca…)

Mengapa Terjun ke Bisnis Online (Website) ?

Tags: , , , , ,

Saya batasi dulu, yang saya maksud bisnis online (website) dalam tulisan ini : Bisnis yang pemasukan utamanya adalah dari online (misal : dari iklan di webnya, membership berbayar, dsb). Jadi yang bisnisnya utamanya adalah jualan produk dan online-nya “cuma” jadi tempat promosi saja dan transaksi tetap offline bukanlah yang saya maksud. Untuk yang berjualan di online (e-commerce, tiket, jasa reservasi, dll) juga bukan yang saya maksud. Kalau contoh riilnya, bisnis online yang saya maksud : Detik.com, Kaskus.us, KapanLagi.com, Koprol.com, Flickr.com, YouTube.com, Twitter.com, Facebook.com, Pinboard.in.

Nasihat

Oke, lanjut.. Nah jadi, sejak sekitar 5 tahun lalu, saya sering mengamati dunia bisnis online baik lokal maupun luar (tulisan2 jaman itu masih ada di blog ini). Beberapa “sabda” yang dari jaman itu hingga sekarang selalu saya dengar adalah : “Jangan ragu – ragu masuk ke bisnis online di Indonesia… Marketnya sangat besar.., potensi bisnisnya juga sangat besar.. bla..bla..”. (1)

Kemudian biasanya diikuti dengan nasihat : “Inget, bisnis online itu tidak melulu sumber pendapatannya dari iklan, masih banyak model bisnis lainnya, misal : layanan berbayar (seperti 37signals.com), konten premium (seperti DetikPortal.com), and the bla.. and the bla..” (2)

Anehnya, paradoks dengan nasihat di atas, pihak – pihak yang sama (luar negri maupun lokal) juga mempopulerkan ini : “Budget beriklan di online itu sekarang naiknya pesat sekali.., sudah naik jadi _sekian_ persen.” Atau yang seperti ini : “Ada sekian Milliar rupiah budget iklan dari perusahaan – perusahaan di Indonesia dan tiap tahun makin besar nilainya. Hampir semuanya masuknya kesitu – situ juga (portal berita), jadi peluang nya masih besar..” (3)

Skeptis

Teman – teman saya mungkin menganggap saya selalu pesimis soal dunia bisnis online Indonesia. Tapi, saya sendiri sebenarnya merasa saya mengambil sikap skeptis, tapi tetap optimis. Nah berhubungan dengan 3 poin di atas, ini yang mau saya bahas :

(1) Iya.. benar.. marketnya besar.. ada 30-40jt-an pengguna internet di Indonesia (di tahun 2006 dulu diperkirakan baru ada 18jt). Untuk poin ini saya setuju.

(2) Nah untuk poin ini saya masih skeptis. Saya jaman dulu sempat memegang teguh nasihat (2), sehingga sebegitu bencinya saya dengan banner-ads. Seperti di film The Social Network itu, mereka juga anti banget dengan banner ads toh.. (waktu nasihat itu saya dengar, Friendster masih jadi raja soc. network). Tapi nyatanya memang sumber pemasukan paling real itu ya iklan (ads), entah apapun itu bentuknya : tulisan berbayar, banner image, teks, contextual text, link dsb.  (Facebook pun sekarang memasang ads toh… Twitter juga menampilkan ads (dalam bentuk promoted hashtag)).

Iya saya tahu.. kalau efektifitas banner ads itu (katanya) cuma sekitar 2,8%, tapi itu bukankah kalau usernya nggak targeted?  Kalau ngiklan obat diabetes di situs komunitas penderita diabetes lebih efektif dong harusnya ya.. Toh.. situs e-commerce juga (katanya) tingkat konversinya juga paling pol cuma 2%.. bahkan untuk yang sekelas Bhinneka.com yang sudah dipercaya.

Pertimbangan lainnya, situs yang secara trafik memang luar biasa : Detik.com, Kaskus.us, KapanLagi.com, LintasBerita.com dll, sumber pemasukannya dari iklan juga bukan? Kompas.com (yang dibackup group sebesar Kompas Gramedia) pun 70% pemasukannya disumbang oleh halaman depannya (saya lupa baca soal ini dimana), yang berarti 70% nya itu sudah pasti ads (atau saya yang salah tangkap?). (baca…)

Former X Engineers Build Bla Bla..

Di luar negri

Kalau contoh aslinya jadinya seperti ini :

  • Former Facebook Engineer Build Quora.com
  • Former GMail Engineer Build FriendFeed.com
  • Former Google engineer Build Cuil.com
  • Former PayPal engineer Build YouTube.com
  • dst..

Jadi, engineer dari satu web-startup yang sudah sukses keluar dan membuat startup baru lagi. Terus berulang. Dan banyak juga yang sukses, atau setidaknya sempat bikin geger.

Di Indonesia

Kalau di Indonesia web-startup yang sudah sukses (dan mampu bertahan bertahun – tahun) itu paling baru ini : Detik.com dan Kaskus.us. Okelah terlepas dari *kabar burung* kalau pendapatan dari webnya agak goyang, KapanLagi.com mungkin bisa kita masukkan. Jadi mengikuti pola di atas menjadi :

  • Former Detik Engineer Build ….??
  • Former Kaskus Engineer Build …??
  • Former KapanLagi Engineer Build …??
  • ..?

Mungkin ada yang bisa isi titik – titik di atas ini?

UPDATE : eh iya ada satu nih (baru inget) :D

  • Former VivaNews Engineer Build MosqueLife.com