<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Okto SiLaban</title>
	<atom:link href="http://okto.silaban.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://okto.silaban.net</link>
	<description>Okto SiLaban "Laban" adalah "LabanUx"</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Aug 2010 04:22:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kaskus di Sekitar Kita</title>
		<link>http://okto.silaban.net/2010/08/website/kaskus-di-sekitar-kita/</link>
		<comments>http://okto.silaban.net/2010/08/website/kaskus-di-sekitar-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 04:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Okto Silaban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Website]]></category>
		<category><![CDATA[kaskus]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okto.silaban.net/?p=860</guid>
		<description><![CDATA[Dari jaman kuliah, saya sering bercerita kepada teman &#8211; teman saya tentang dunia online, mulai dari startup &#8211; startup di luar negri, sejarah Google, Facebook, eBay, Digg, Flickr dll sampai dengan situs &#8211; situs lokal. Saya bercerita tentang Detikcom, dan beberapa situs &#8220;startup&#8221; dari Indonesia (kala itu). Tapi saya tidak pernah bercerita tentang Kaskus. Tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://okto.silaban.net/wp-content/uploads/2010/08/Kaskus-logo.gif"><img title="Kaskus logo" src="http://okto.silaban.net/wp-content/uploads/2010/08/Kaskus-logo.gif" alt="Kaskus Logo" align="left" /></a>Dari jaman kuliah, saya sering bercerita kepada teman &#8211; teman saya tentang dunia online, mulai dari startup &#8211; startup di luar negri, sejarah Google, Facebook, eBay, Digg, Flickr dll sampai dengan situs &#8211; situs lokal. Saya bercerita tentang Detikcom, dan beberapa situs &#8220;startup&#8221; dari Indonesia (kala itu). Tapi saya tidak pernah bercerita tentang Kaskus. Tidak ada orang dalam Kaskus, atau eks orang dalam Kaskus yang saya kenal kala itu, saya tidak punya informasi lebih jauh. Kala itu kebanyakan dari teman &#8211; teman saya cuma mendengarkan sambil lalu, beberapa cukup antusias (maklum kampus saya bukan kampus IT, isinya para calon engineer).</p>
<p>Kosakata di Kaskus memang sudah familiar dengan saya sejak tahun pertama masa kuliah saya. Sebutan Agan, Cendol, Repsol, dll cukup familiar, walaupun hampir tidak pernah saya gunakan, karena saya bukan kaskuser. Tapi tidak dengan FJB (Forum Jual Beli &#8211; Kaskus). Saya malah baru sadar keberadaan FJB sekitar tahun 2006.</p>
<p>Ketika saya mengisi sebuah sesi diskusi dengan mahasiswa informatika, di sebuah kampus di Jogja, saya bahkan tidak pernah menyebut Kaskus. Mereka yang sering saya sebut : Detik, Politikana, PortalHR, Penonton.com, DagDigDug, Asia Blogging Network, Cerpenista, dll.</p>
<p>Tapi lihat dan dengarkan sekarang. Tiga dari teman &#8211; teman kuliah saya yang bukan penggiat dunia online itu sekarang bekerja di Jakarta. Dan ternyata sudah pernah berbelanja di Kaskus. Dan anda tahu apa yang mereka beli? Ketiganya membeli sepeda motor di FJB !  Wow, saya cukup kaget mengetahui bahwa mereka ternyata sangat percaya dengan forum terbesar di Indonesia ini.</p>
<p>Itu masih untuk jual beli barang. Yang lebih terasa adalah faktor kultural. Di tempat saya dulu bekerja, saya dan teman &#8211; teman kantor bisa menyebut satu sama lain dengan panggilan standar : lu, gue. Tapi belakangan bergeser jadi : agan, ane, hingga sekarang. Saya tadi bertemu salah satu teman saya itu, dan tanpa sadar masih menggunakan : ane, agan. Uniknya, ini berlangsung di depan salah satu petinggi Kaskus.</p>
<p>Ok, mungkin ada yang berpendapat karena kami sama &#8211; sama aktif di jagad online, wajar kultur itu terbawa. Tapi, eitss.. nanti dulu. Barusan saya chatting dengan seorang teman lama. Dulu saya kenal teman saya ini di Jogja, waktu cewek ini masih duduk di kelas 2 SMA. Sedangkan saya waktu itu sudah berada di ujung tanduk (baca: semester akhir).</p>
<p>Saya sudah cukup lama tidak kontak dengan cewek satu ini. Tadi, via YM, chit &#8211; chat berlangsung kesana kemari dengan gaya bahasa yang berganti &#8211; ganti, hingga sampai di gaya bahasa Kaskus, dan sejak itu tidak berganti lagi. Ajaib! Seakan &#8211; akan tanpa sadar kami mengamini bahwa gaya bahasa ini yang paling cocok. Walaupun dia bukan tipikal penggiat dunia online seperti saya. (Yes, even girl speak Kaskus now..)</p>
<p>Saya dan teman &#8211; teman kuliah saya dulu itu (yang sekarang sudah menjadi engineer beneran), juga sama. Waktu kami main billiard, satu sama lain menggunakan gaya bahasa Kaskus. Yang entah mengapa membuat hawa permainan menjadi lebih menarik.</p>
<p><em>&#8220;Gan.., ane mau masukin bola sembilan gak bisa tuh gan. Mungkin bawah ane bisa gan..&#8221;</em></p>
<p>Di Facebook pun saat mengisi komentar di profil teman, seringkali keluar gaya bahasa Kaskus ini. Hanya kebetulan? Atau memang kultur dari Kaskus ini sudah mewabah dimana &#8211; mana (dalam arti positif)?</p>
<p>DEWA aja bikin lagu buat Kaskuser :</p>
<p><em>Agankuu.. Kumohon.. Tetap disini..</em></p>
<p><em>Temaniii.. Hot trit ku.., yang baru naik.. </em></p>
<p>*kriukk..*</p>
<p>Link Terkait : <a href="http://okto.silaban.net/2010/01/website/slank-dan-kaskus/">Slank dan Kaskus</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okto.silaban.net/2010/08/website/kaskus-di-sekitar-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Online Content Strategy untuk Awam</title>
		<link>http://okto.silaban.net/2010/07/website/online-content-strategy-untuk-awam/</link>
		<comments>http://okto.silaban.net/2010/07/website/online-content-strategy-untuk-awam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 18:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Okto Silaban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Website]]></category>
		<category><![CDATA[content strategy]]></category>
		<category><![CDATA[media online]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<category><![CDATA[online strategy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okto.silaban.net/?p=850</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun lalu, sewaktu baru saja kenal dengan Pak Nukman, sering terlintas tulisan Online Strategy. Entah apa arti sebenarnya waktu itu, saya juga tidak begitu paham. Belakangan, istilah itu terlihat lebih jelas. Karena melihat begitu banyaknya pemain serius yang mau masuk ke dunia online, tapi tanpa strategi yang jelas. Dan walaupun mulai bergeliat, namun sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun lalu, sewaktu baru saja kenal dengan Pak Nukman, sering terlintas tulisan Online Strategy. Entah apa arti sebenarnya waktu itu, saya juga tidak begitu paham. Belakangan, istilah itu terlihat lebih jelas. Karena melihat begitu banyaknya pemain serius yang mau masuk ke dunia online, tapi tanpa strategi yang jelas. Dan walaupun mulai bergeliat, namun sangat lambat geraknya.</p>
<p>Online Stragtegy sendiri tak lepas dari beberapa strategi yang sudah ada dan umum di dunia offline, misal : Content Strategy, Brand Strategy, dll.. Dan hal istilah &#8211; istilah ini &#8216;lagi laris&#8217; belakangan ini di dunia digital, khususnya dunia online.</p>
<p>Nah, berbicara tentang Content Strategy. Untuk yang awam dan mungkin blank tentang apa sebenarnya Content Strategy, silahkan baca <a href="http://okto.silaban.net/2007/03/website/develop-dan-content-dua-sisi-mata-uang/">disini</a>. Itu sebagian gambarannya. Dalam level yang serius tentu saja masih lebih luas dari situ. (Saya baru sadar kalau saya pernah menuliskan tentang hal ini tahun 2007)</p>
<p>Di tulisan tersebut saya menuliskan tentang salah satu contoh kasus yang saya alami, dan cukup sederhana. Untuk masa sekarang, Content Strategy nya tentu akan lebih rumit. User sekarang sudah paham cara menggunakan media website. Mereka juga sudah tahu lebih banyak situs, dan bagaimana mencari konten yang diinginkan. Dengan kata lain, peluang user untuk meninggalkan situs kita semakin besar, jika.. tanpa didasari Content Strategy yang sesuai.</p>
<p>*intinya.. saya baru nyadar pernah nulis itu tahun 2007.. <img src='http://okto.silaban.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Terkait : <a href="http://okto.silaban.net/2010/01/website/membangun-media-online-yang-kasat-mata-dan-tidak/">Membangun Media Online &#8211; Yang Kasat Mata dan Tidak</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okto.silaban.net/2010/07/website/online-content-strategy-untuk-awam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cari Developer Itu Susah Kawan !</title>
		<link>http://okto.silaban.net/2010/05/linux/cari-developer-itu-susah-kawan/</link>
		<comments>http://okto.silaban.net/2010/05/linux/cari-developer-itu-susah-kawan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 10:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Okto Silaban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Code]]></category>
		<category><![CDATA[Linux]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[google adsense]]></category>
		<category><![CDATA[programmer]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okto.silaban.net/?p=833</guid>
		<description><![CDATA[Masih berkaitan dengan Indonesia di TechCrunch. Ada banyak poin yang bisa dijadikan catatan. Saya menyoroti satu hal : Ternyata yang sulit di Indonesia itu adalah mencari developer, bukan pendanaannya !
&#8230;Instead, the pain point is finding developers. In Indonesia, developers are considered an entry level position, not a lucrative career path. Most companies have to invest [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih berkaitan dengan <a href="http://okto.silaban.net/2010/05/website/indonesia-di-techcrunch/">Indonesia di TechCrunch</a>. Ada banyak poin yang bisa dijadikan catatan. Saya menyoroti satu hal : Ternyata yang sulit di Indonesia itu adalah mencari developer, bukan pendanaannya !</p>
<blockquote><p>&#8230;Instead, the <strong>pain point is finding developers</strong>. In Indonesia, developers are considered an entry level position, not a lucrative career path. Most companies have to invest six months or so in training the talent they need, making scaling up a challenge.</p></blockquote>
<p>Hah?! Dengan sekian banyak website bertema programming dan development (khususnya web), belum lagi milis &#8211; milis. Ternyata susah mencari developer?!!</p>
<p>Oohoo.. Bukan berita baru sebenarnya. Tanyakan pada mereka yang mencari programmer, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan programmer berkualitas? Sebuah perusahaan dari grup bisnis yang sangat besar di Indonesia, dalam waktu 6 bulan pun masih belum bisa mendapatkan satu orang programmer web, dengan spesifikasi standar.</p>
<p>Lalu apa penyebabnya ? Saya coba rangkum. (silahkan tambahkan di kolom komentar kalau anda punya masukan baru)</p>
<p><strong>Gaji</strong></p>
<p>Isu sangat sensitif ini. Dan seringkali jadi pertimbangan utama (ya sama lah dengan lowongan kerja lainnya). Ada yang menawarkan standar salary yang tidak masuk akal untuk standar hidup di Jakarta. Tapi berhubung perusahaan ini punya label nama yang mentereng, banyak yang rela mengantri (sebelum akhirnya pun mengantri untuk resign).</p>
<p>Ada juga yang minta minimal requirement kaya dewa (yah.., para developer pasti tahulah), tapi dengan gaji standar UMR.</p>
<p><strong>Nama Besar</strong></p>
<p>Lalu, apa tidak ada yang menawarkan gaji besar? Ohh ada.. Tapi minimal requirement nya tinggi ya? Tidak juga..  Tapi kok gak dapet &#8211; dapet programmernya?</p>
<p>Nah sama juga seperti lowongan kerja lainnya. Nama besar penting. Kalau perusahaan ini masih baru (khususnya startup) mereka yang punya kualitas tinggi pun tetap akan membandingkannya dengan lowongan sejenis dari perusahaan yang punya nama besar. Apalagi kalau multinational company. Apalagi kalau oil &amp; gas company.. (jujur..!) <span id="more-833"></span></p>
<p>Ada juga yang mau bergabung di perusahaan kecil, untuk kemudian dijadikan lompatan untuk masuk ke perusahaan dengan nama besar.</p>
<p>Banyak juga yang lebih memilih jadi PNS (dengan gaji awal lebih kecil daripada di startup company), karena jaminan masa depan. *silahkan berdebat soal ini* <img src='http://okto.silaban.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Kualitas</strong></p>
<p>Dari sisi programmer sendiri, sebenarnya banyak juga yang cuma &#8216;programmer koboi&#8217;. Ini adalah tipikal programmer yang belajar otodidak, yang berprinsip : Yang penting jadi dan bisa dijalankan &#8211; lalu belakangan boroknya terbuka satu demi satu. Lepas dari konsep &#8211; konsep dasar pemrograman dan software engineering. Jangan salah, yang *ngaku* lulusan kuliah Informatika / Ilmu Komputer pun banyak yang ternyata programmer koboi.</p>
<p>Eitts.., tapi jangan salah, developer koboi ini juga banyak lho yang punya penghasilan jauh di atas developer yang bekerja di perusahaan besar.</p>
<p>Ada juga yang punya portofolio bagus. Dengan sederet pengalaman kerja yang keren, dan tempat bekerja yang juga keren &#8211; keren. Tapi setelah dites, tidak sebagus yang dibayangkan.</p>
<p>Lalu apakah tidak ada programmer yang bener &#8211; bener berkualitas, dan punya outstanding skill &amp; knowledge?  Ada.. tentunya ada. Tapi mereka yang sudah di level ini, tentunya preferensinya lebih ketat untuk memilih tempat dia bekerja. Apakah ini institusi/company yang bonafit? Apakah kesejahteraannya bakal terjamin di sini? Dst. Karena, mereka yang sudah berada di level ini, bisa dengan mudah mendapatkan proyek (khususnya dari luar negri).  Lah bikin template Wordpress aja ada yang rate nya $700/template ! Masak mau digaji dibawah itu per bulan? *sori, nyebut angka*</p>
<p>Selain itu, mereka yang sudah punya kualitas bagus, apalagi kalau berasal dari software house, sebagian lebih memilih membuat perusahaan web development sendiri ketimbang jadi karyawaan di perusahaan / institusi lain. Atau justru pindah ke perusahaan besar yang jadi client nya dulu di software house.</p>
<p><strong>Freelancer</strong></p>
<p><a href="http://okto.silaban.net/2010/05/general/programmer-sukses/">Freelancer masih menjadi pilihan</a> banyak programmer yang punya kualitas bagus. Karena pada dasarnya programmer model ini pengen *hidup bebas*, punya waktu yang lebih fleksibel, enggak usah ribet dengan birokrasi dan aturan tata kesopanan pakaian. Apalagi ditunjang dengan pemasukan yang menggiurkan.</p>
<p>Yah.., walaupun saya percaya pada kenyataanya : <strong>Every developer is a freelancer </strong> <img src='http://okto.silaban.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Google AdSense</strong></p>
<p>No comment <img src='http://okto.silaban.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>StartUp</strong></p>
<p>Yap.. developer yang berkualitas juga sadar sekarang momen yang pas untuk membuat startup. Jadi dia lebih memilih bikin startup sendiri, ketimbang gabung di startup lain.</p>
<p><strong>Google</strong></p>
<p>Sudah bukan rahasia, kehidupan para developer di Google, sering jadi sorotan media. Bagaimana mereka begitu dimanjakan disana. Bagaimana mereka bisa bebas berkreasi disana. Dan hal ini juga terjadi di Facebook. Ditambah isinya kebanyakan adalah anak &#8211; anak muda, orang &#8211; orang yang energik, dan lebih menyenangkan.  Plus.., perusahaannya punya nama besar. Ada di Indonesia yang seperti ini?</p>
<p><em>Di Indonesia saya pernah dengar ada perusahaan yang seperti itu, lokasinya di Jogja, tapi bukan perusahaan IT, melainkan advertising &amp; communication *tapi minus nama besar kayaknya.. <img src='http://okto.silaban.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> *</em></p>
<p>Jadi, bagi perusahaan (khususnya startup) yang mau merekrut developer, biasanya developer yang berkualitas itu :</p>
<ul>
<li>Sudah bekerja di perusahaan dengan nama besar atau di luar negri</li>
<li>Sedang jadi freelancer dengan penghasilan yang menggiurkan</li>
<li>Masih kerja di perusahaan yang namanya tidak pernah anda dengar, tapi gajinya tidak bisa anda bayangkan</li>
<li>Sedang membuat perusahaan web development sendiri</li>
<li>Sedang bikin startup juga</li>
<li>Nganggur dan nunggu Google buka kantor di Indonesia (ha..ha..ha&#8230;)</li>
</ul>
<p>Kalau bisa bikin kantor ala Google atau Facebook di Indonesia dan bisa bikin nama perusahaannya besar, mungkin.. mungkin developer &#8211; developer berkualitas itu akan datang dengan sendirinya.</p>
<p>Jadi, posisikan diri anda jadi orang &#8211; orang seperti di atas. Apa yang bikin mereka tertarik untuk bergabung dengan anda? (di luar gaji dan nama besar).</p>
<p><em>NB: Disadur dari berbagai cerita teman, bacaan, dan pengamatan langsung di lapangan.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okto.silaban.net/2010/05/linux/cari-developer-itu-susah-kawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia di TechCrunch</title>
		<link>http://okto.silaban.net/2010/05/website/indonesia-di-techcrunch/</link>
		<comments>http://okto.silaban.net/2010/05/website/indonesia-di-techcrunch/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 08:18:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Okto Silaban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Website]]></category>
		<category><![CDATA[koprol]]></category>
		<category><![CDATA[startup]]></category>
		<category><![CDATA[techcrunch]]></category>
		<category><![CDATA[yahoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okto.silaban.net/?p=826</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar tahun 2007, saya tahu TechCrunch pertama kali. Waktu itu cuma bisa ngiler aja lihat berbagai startup diulas di TechCrunch. Sama juga seperti pembaca TechCrunch dari Indonesia yang lain, sebagian besar pasti berpikir : Kapan ya, startup dari Indonesia masuk TechCrunch [TC] ? Saya berpikir, ah paling cepat 5 tahun lagi.
*Yang belum tahu tentang TC, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekitar tahun 2007, <a href="http://okto.silaban.net/2007/11/website/bingung-cari-ide-untuk-membuat-website-ini-referensinya/">saya tahu TechCrunch pertama kali</a>. Waktu itu cuma bisa ngiler aja lihat berbagai startup diulas di TechCrunch. Sama juga seperti pembaca TechCrunch dari Indonesia yang lain, sebagian besar pasti berpikir : Kapan ya, startup dari Indonesia masuk TechCrunch [TC] ? Saya berpikir, ah paling cepat 5 tahun lagi.</p>
<p><em>*Yang belum tahu tentang TC, bisa dibilang TC ini kiblat informasi tentang startup (yang sebagian besar memang startup dunia online).</em></p>
<p>Dan akhirnya, beberapa hari lalu pertama kalinya TechCrunch membahas startup Indonesia (ya <a href="http://techcrunch.com/2010/05/24/yahoo-koprol/">karena dibeli Yahoo tentunya</a>). Dialah Koprol, sebuah microblogging berbasis lokasi, yang sering dibanding &#8211; bandingkan dengan FourSquare (yang memang jauh lebih besar). Hey.., ternyata gak sampai 3 tahun sampai akhirnya pikiran saya itu  terwujud.</p>
<p>Dan hari ini, tepat saat hari raya Waisak, TC menulis spesial tentang startup di Indonesia. Silahkan <a href="http://techcrunch.com/2010/05/27/what-the-hell-is-going-on-in-indonesia/">baca lengkapnya di TC</a>.</p>
<p><strong>Pesimis ?</strong></p>
<p>Saya sempat rada pesimis dengan desas &#8211; desus maraknya startup dari Indonesia? Kenapa? <span id="more-826"></span>Sebagian besar *yang saya tahu* karena kelihatannya bukanlah pemain serius. Lebih ke arah kreatifitas developernya. Seakan &#8211; akan memang cuma ajang kreatifitas, bukan memang serius direncanakan dan diekseksusi sebagai bisnis. (Salut buat Tokopedia yang memang memandang startup mereka itu sebagai bisnis sejak dari awal diriset, direncanakan, hingga eksekusi).</p>
<p>Tapi, mungkin memang begitu jalannya. Mereka yang menuangkan kreatifitas mereka itu, tentu juga terbersit soal bisnis. Mungkin saja karena kurang pede, atau masih belum 100%, jadi masih menunggu waktu. Jadi setelah usernya besar, dan kelihatan arahnya, baru lebih diseriusi. (Flickr sendiri tadinya bukan ditujukan buat sharing foto, tapi akhirnya  besar dan menjadi bisnis karena sharing foto. Kaskus pun awalnya buat  diskusi, bukan buat jual-beli, tapi akhirnya FJB (Forum Jual Beli) -nya  jadi luar biasa besar.) Mungkin model ini yang banyak diterapkan di Indonesia.</p>
<p><strong>Saran?</strong></p>
<p>Kita sama &#8211; sama bisa baca, memang tidak ada rule pasti untuk membangun startup. Yang satu bilang : &#8220;Buatlah bisnis model sejak awal&#8221;. Yang lain bilang : &#8220;Hey.. just do it ! Kalo user udah banyak, duit datang dengan sendirinya !&#8221; .  Ada juga yang bilang : &#8220;Fokuslah pada ide.. Karena ide itu mahal&#8221;. Lalu ada yang berujar : &#8220;Eksekusi lah..! Ide itu tidak harus original. Pebisnis itu adalah orang bisa menjalankan bisnis, sekalipun ide nya tidak original&#8221;.  Pernyataan : &#8220;Cari Ide, temukan investor.., eksekusi&#8221; dibantah dengan &#8220;Cari ide, eksekusi, investor bakal datang sendiri &#8220;. Dst..</p>
<p>Jadi saya tidak akan menambahkan saran baru lagi. Selamat berusaha..!</p>
<p>Ah iya, selamat Hari Raya Waisak.. Semoga Semua Makhluk Berbahagia&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okto.silaban.net/2010/05/website/indonesia-di-techcrunch/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Programmer Sukses</title>
		<link>http://okto.silaban.net/2010/05/general/programmer-sukses/</link>
		<comments>http://okto.silaban.net/2010/05/general/programmer-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 05:53:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Okto Silaban</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Linux]]></category>
		<category><![CDATA[Bulha dan Haran]]></category>
		<category><![CDATA[programmer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okto.silaban.net/?p=818</guid>
		<description><![CDATA[Bulha sedang menunggu pesanan sego kucing dan es tehnya ketika seorang gadis yang membawa kamera DSLR, dengan tas ransel di pundak, kaos oblong, dan celana jins pendek mendekatinya lalu duduk di sampingnya. Lokasi mereka nongkrong memang cocok untuk mengabadikan apa yang terlihat di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret, yaitu di depan Kantor Pos perempatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulha sedang menunggu pesanan sego kucing dan es tehnya ketika seorang gadis yang membawa kamera DSLR, dengan tas ransel di pundak, kaos oblong, dan celana jins pendek mendekatinya lalu duduk di sampingnya. Lokasi mereka nongkrong memang cocok untuk mengabadikan apa yang terlihat di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret, yaitu di depan Kantor Pos perempatan alun &#8211; alun utara, Jogja.</p>
<p>Bermaksud mengisi kesunyian karena Haran tak kunjung datang, Bulha bertegur sapa dengan gadis ini.</p>
<p>Bulha : Wah.. fotografer nih mbak?</p>
<p>Si Mbak : Ahh.. enggak kok. Cuma hobi aja. Keliling &#8211; keliling nyari objek bagus. Ini juga baru belajar.</p>
<p>Bulha : Oo.. Potongannya udah cocok lho mbak jadi fotografer profesional.</p>
<p>Si Mbak : (Tersenyum seraya membidikkan lensa kameranya ke arah turis domestik berwujud <em>alay</em> yang sedang heboh berfoto ria di depan monumen bersejarah itu.)</p>
<p>Bulha : Emang kerja dimana mbak?</p>
<p>Si Mbak : Oh.. saya programmer kok mas. Freelance.</p>
<p>Bulha : Emm.., sama kaya saya dulu. Dulu saya freelance juga di Jogja. Tapi sekarang kerja di Jakarta, programmer di bank swasta.</p>
<p>Si Mbak : Whuee.. asoy tuh gajinya, ha..ha..</p>
<p>Bulha : Gak juga standar kok. Eh, freelance sendirian ato ada timnya, Mbak?</p>
<p>Si Mbak : Sendiri aja. Tapi kadang kalo loadnya berat, ya di outsource ke temen &#8211; temen freelancer lainnya juga. Terutama desain. Selera desain saya jelek.., he..he.. (lalu memanggil si empunya angkringan, memesan susu jahe).</p>
<p>Bulha : Kenapa gak bikin tim aja, Mbak?</p>
<p>Si Mbak : Buat apa?</p>
<p>Bulha : Ya.., nanti kan bisa jadi lebih besar resource nya.</p>
<p>Si Mbak : Terus?</p>
<p>Bulha : Ya terus bisa ngambil proyek lebih banyak lagi. Gak kecapekan.</p>
<p>Si Mbak : Proyek lebih banyak buat apa?</p>
<p>Bulha : Ya biar pendapatan makin gede. Ntar bisa jadi perusahaan malah.</p>
<p>Si Mbak : Lah terus?</p>
<p>Bulha : Nah.., kalau udah jadi perusahaan kan enak. Ada timnya sendiri, punya anak buah. Sistemnya udah bekerja.</p>
<p>Si Mbak : Kalau sistem udah bekerja?</p>
<p>Bulha : Nah Mbak kan bisa jadi lebih nyantai. Bisa nerusin hobi fotografi. Keliling &#8211; keliling nyari objek bagus, nongkrong di angkringan sambil minum susu jahe..</p>
<p>Si Mbak : Lah ini saya lagi ngapain? (saat membidikkan kameranya, si empunya angkringan mengantarkan susu jahe pesanannya).</p>
<p>Bulha : *bengong*</p>
<p>Cuma sekadar sudut pandang lain. Hidupmu, pilihanmu.</p>
<p>NB :<em> Cerita ini saya dengar dari kakak saya, tidak tahu siapa yang menulis aslinya. Cerita aslinya tentang nelayan. Saya sesuaikan jadi bertema IT. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okto.silaban.net/2010/05/general/programmer-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gunakan Partisi Terbesar di Server Amazon EC2</title>
		<link>http://okto.silaban.net/2010/05/linux/gunakan-partisi-terbesar-di-server-amazon-ec2/</link>
		<comments>http://okto.silaban.net/2010/05/linux/gunakan-partisi-terbesar-di-server-amazon-ec2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 19:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Okto Silaban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linux]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>
		<category><![CDATA[admin]]></category>
		<category><![CDATA[amazon ec2]]></category>
		<category><![CDATA[ec2]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>
		<category><![CDATA[webserver]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okto.silaban.net/?p=815</guid>
		<description><![CDATA[Untuk yang pernah menggunakan (me-launch) instance baru di Amazon EC2, biasanya mendapatkan setingan partisi default : 10 GB untuk sistem operasi, dan sisanya di /mnt. Beberapa waktu lalu saya juga membuat instance baru di Amazon EC2. Kali ini bukan Debian, tapi Ubuntu 10.04. Instance kali ni merupakan instance yang large : Prosessor AMD 64 (virtual [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk yang pernah menggunakan (me-launch) instance baru di Amazon EC2, biasanya mendapatkan setingan partisi default : 10 GB untuk sistem operasi, dan sisanya di /mnt. Beberapa waktu lalu saya juga membuat instance baru di Amazon EC2. Kali ini bukan Debian, tapi Ubuntu 10.04. Instance kali ni merupakan instance yang large : Prosessor AMD 64 (virtual tentunya), RAM 7,8GB, dan hardisk 400GB-an (lupa pastinya). AMI yang saya gunakan, yang resmi dari Canonical.</p>
<p>Sama seperti instance untuk server Debian. 10 GB digunakan untuk sistem operasi, dan sisanya (414 GB) dimount ke partisi /mnt.  Nah berhubung website ini membutuhkan banyak space, dan space terbesar justru berada di /var, maka /mnt itu akan saya ganti jadi /var.</p>
<p><em>Catatan : /var banyak makan space, karena di dalamnya ada direktori untuk script web (/var/www), direktori untuk data MySQL (/var/lib/mysql), dan jangan lupa LOG ! <a href="http://okto.silaban.net/2009/10/linux/mysql-di-hari-minggu/">Kasus saya dulu</a> partisi utama cepat penuh justru karena Log Apache (Thanks to agan <a href="http://nugrahadi.pramono.info/">Yuda Nugrahadi</a> atas petunjuknya). Ah iya, Log apache terletak di /var/log/apache2/</em></p>
<p>Nah. Kembali ke topik. Jadi ini langkah &#8211; langkah yang saya lakukan agar space 414 GB itu menjadi direktori /var sistem.</p>
<p>1. Login ssh ke server (karena pakai Amazon EC2, jangan lupa gunakan file key pairing nya *.pem, atau kalau tidak mau repot lakukan : ssh-add fileKey.pem).</p>
<p>2. sudo -s (biar jadi root)</p>
<p>3. pico /etc/fstab.</p>
<p>ganti baris :</p>
<p><code>/dev/sdb    /mnt    auto    defaults,comment=cloudconfig    0    0</code></p>
<p>jadi :</p>
<p><code>/dev/sdb    /var    ext3    defaults    0    0</code></p>
<p>4. rsync -avz /var/* /mnt/</p>
<p>5. mv /var  /var-old</p>
<p>6. umount /dev/sdb</p>
<p>7. mount /dev/sdb</p>
<p>8. Kalau mau lebih yakin : reboot</p>
<p>Nah langkah &#8211; langkah di atas berjalan dengan baik untuk 2 server yang saya sempat senggol. Tapi cukup riskan juga sebenarnya. Jika tidak yakin, jangan coba &#8211; coba.. He..he..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okto.silaban.net/2010/05/linux/gunakan-partisi-terbesar-di-server-amazon-ec2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aplikasi Mobile untuk 21 Cineplex</title>
		<link>http://okto.silaban.net/2010/04/linux/aplikasi-mobile-untuk-21-cineplex/</link>
		<comments>http://okto.silaban.net/2010/04/linux/aplikasi-mobile-untuk-21-cineplex/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 02:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Okto Silaban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linux]]></category>
		<category><![CDATA[aplikasi mobile]]></category>
		<category><![CDATA[application]]></category>
		<category><![CDATA[mobile]]></category>
		<category><![CDATA[mobile application]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okto.silaban.net/?p=811</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya kalau di Nokia E series, udah ada aplikasi resmi dari OVI Store untuk melihat jadwal, lokasi dan harga tiket film di jaringan 21 Cineplex. Tapi saya rasa aplikasi itu masih jauh dari nyaman. Kesannya tidak seperti native application. Ya, karena memang beberapa bagian akhirnya memang cuma menjadi shortcut ke web mobilenya. Ujung &#8211; ujungnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya kalau di Nokia E series, udah ada aplikasi resmi dari OVI Store untuk melihat jadwal, lokasi dan harga tiket film di jaringan 21 Cineplex. Tapi saya rasa aplikasi itu masih jauh dari nyaman. Kesannya tidak seperti native application. Ya, karena memang beberapa bagian akhirnya memang cuma menjadi shortcut ke web mobilenya. Ujung &#8211; ujungnya detail film dan jadwal harus tetap dibuka di browser mobile.</p>
<p>Beruntunglah ada bung <a href="http://www.cwicaksono.net/about">Cahyo Wicaksono</a>, yang telah membuatkan aplikasi mobile serupa. Ada dua versi, yang Java version, dan Blackberry. Saya pakai yang Java version. Dan sejauh ini, hasilnya sangat memuaskan. Ini baru native application. Mangstab gan..!</p>
<p>Silahkan download <a href="http://www.cwicaksono.net/mobile-app">disini</a> aplikasinya, gratis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okto.silaban.net/2010/04/linux/aplikasi-mobile-untuk-21-cineplex/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ide : HargaHarga.com ?</title>
		<link>http://okto.silaban.net/2010/04/website/ide-hargaharga-com/</link>
		<comments>http://okto.silaban.net/2010/04/website/ide-hargaharga-com/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 07:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Okto Silaban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Website]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<category><![CDATA[web application]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okto.silaban.net/?p=806</guid>
		<description><![CDATA[Setelah membaca tulisan Rama yang menyinggung Blippy.com saya jadi teringat tulisan saya beberapa waktu lalu tentang ide &#8211; ide website yang mau saya tulis disini. Karena toh saya tidak mewujudkannya, dan pasti ada juga yang kepikiran dengan hal yang sama, jadi di share disini mungkin bisa membantu mereka yang sedang mewujudkannya.
Dari tulisan Rama tentang Blippy.com [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah membaca tulisan <a href="http://dailysocial.net">Rama</a> yang menyinggung <a href="http://rampok.posterous.com/creative-ideas-are-cheap">Blippy.com</a> saya jadi teringat tulisan saya beberapa waktu lalu tentang<a href="http://okto.silaban.net/2009/05/website/ide-ide-website-yang-tidak-belum-terealisasi/"> ide &#8211; ide website</a> yang mau saya tulis disini. Karena toh saya tidak mewujudkannya, dan pasti ada juga yang kepikiran dengan hal yang sama, jadi di share disini mungkin bisa membantu mereka yang sedang mewujudkannya.</p>
<p>Dari tulisan Rama tentang Blippy.com tadi, konsepnya kurang lebih kaya Twitter. Kalau Twitter bertanya : &#8220;What are you doing?&#8221;, Blippy menanyakan : &#8220;What are you buying&#8221;.  Jadi nanti di situs ini kita bisa dapat informasi tentang barang &#8211; barang yang sedang laris dibeli, harganya, dimana membelinya. Rama sendiri dulu pernah ikut membangun situs yang punya ide dasar sama, walaupun tidak jadi diteruskan.</p>
<p>Saya pun dulu punya ide yang agak &#8211; agak mirip. Sekitar dua tahun lalu. Konsep saya dari dulu selalu sama untuk membuat website : Buatlah sebuah website yang membantu orang menyelesaikan masalah mereka, seperti saran dari errr&#8230; kalo gak salah Paul Graham dari <a href="http://ycombinator.com">Y Combinator</a>. Nah waktu itu masalah yang paling kerasa buat saya : sulitnya menemukan informasi harga barang yang cukup akurat, untuk lokasi tertentu.</p>
<p>Terbersitlah ide untuk membuat sebuah website yang bisa mengakomodir hal itu. Kebetulan waktu itu saya baru ngulik CakePHP. Jadilah dibentuk dummy webnya dengan desain copy-paste plek.. dari delicious.com. <img src='http://okto.silaban.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  (cuma di localhost kok).Waktu itu sempat terpikir akan dinamai HargaHarga.com *he..</p>
<p><strong>Cara Kerja</strong></p>
<p>Konsep webnya : Setiap orang yang sudah register, bisa memasukkan informasi sebuah produk (barang/jasa), lengkap dengan harganya (wajib) dan lokasinya (baik online ataupun offline). Dengan begitu ketika ketika mencari informasi harga sebuah produk di sebuah daerah, kita bisa mendapatkan kisaran harganya.</p>
<p>Tidak semua input user langsung publish, tapi dimoderasi. Awalnya tim dari web ini sendiri. Belakangan dengan mengangkat user yang aktif untuk menjadi moderator. Mungkin kaya Digg atau Kaskus kali ya?</p>
<p><strong>Masalah</strong></p>
<p>Masalah paling besar tentu saja SPAM. Website dengan user generated content itu adalah gula yang tertumpah dilantai dan siap diserang semut &#8211; semut SPAM. Terutama Human-SPAM. Selain itu masih disulitkan dengan akurasi. Bisa jadi kebanyakan user cuma akan memasukkan informasi produk, tidak dengan detail harga. Semata &#8211; mata untuk promosi dan berbagai alasan lainnya. Ya, lebih ke masalah teknis sih (walaupun sebetulnya masih bisa diatasi dengan upaya yang tidak super sulit).</p>
<p><strong>Model bisnis</strong></p>
<p>Tentu saja.., jawaban paling mudah dan paling gampang ditebak : Iklan. Selain itu kerjasama untuk penyediaan data, entah lewat API atau apapun. Masih banyak beberapa model lagi. Tapi yang paling masuk akal dan paling cepat direalisasikan, tetep : iklan.. <img src='http://okto.silaban.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Konsep</strong></p>
<p>Intinya, kalau orang &#8211; orang ingin nyari informasi harga sebuah produk (barang / jasa), datanglah ke web ini. Ah iya, situs ini ditujukan buat lokal Indonesia.</p>
<p>Lalu kenapa saya tidak jadi meneruskannya? Entahlah <img src='http://okto.silaban.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ada yang mau merealisasikannya? Atau justru ada yang sudah mulai? Kalau iya tinggalin komentar di bawah yah..</p>
<p><em>[Update]</em></p>
<p>Dari info bung <a href="http://bennychandra.com/">Benny Chandra</a>, ternyata memang udah pernah ada situs sejenis, dan domainnya? HargaHarga.com ! Ha..ha.. Ini halaman webnya yang sempat terekam : <a rel="nofollow" href="http://web.archive.org/web/20030210191706/http://hargaharga.com/">http://web.archive.org/web/20030210191706/http://hargaharga.com/</a></p>
<p>Tapi sepertinya masih belum user generated content. Dan entah mengapa sekarang situs itu udah mati. (yang ada sekarang, domain parking)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okto.silaban.net/2010/04/website/ide-hargaharga-com/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Copet di Busway Itu Nyata</title>
		<link>http://okto.silaban.net/2010/02/general/copet-di-busway-itu-nyata/</link>
		<comments>http://okto.silaban.net/2010/02/general/copet-di-busway-itu-nyata/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 03:38:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Okto Silaban</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[busway]]></category>
		<category><![CDATA[copet]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okto.silaban.net/?p=776</guid>
		<description><![CDATA[*peringatan : ini postingan curhat*
Kronologi
Jadi gini ceritanya. Saya sama temen naek dari Halte Busway Kebon Jeruk, hendak menuju Pondok Indah Mall (PIM). Sebelum memutuskan naik, dua busway kami biarkan lewat, karena memang itu jam padat banget, sekitar jam 6 sore. Tapi karena niatnya mau nonton di XXI, daripada telat nekat aja naik busway yang sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.prestoimages.com/store/rd43/43_pd1710235_th1.jpg" alt="SE G502" align="left" />*peringatan : ini postingan curhat*</p>
<p><strong>Kronologi</strong></p>
<p>Jadi gini ceritanya. Saya sama temen naek dari Halte Busway Kebon Jeruk, hendak menuju Pondok Indah Mall (PIM). Sebelum memutuskan naik, dua busway kami biarkan lewat, karena memang itu jam padat banget, sekitar jam 6 sore. Tapi karena niatnya mau nonton di XXI, daripada telat nekat aja naik busway yang sudah penuh sesak itu.</p>
<p>Sewaktu di busway, seperti biasa ada sedikit dorong &#8211; mendorong kecil di dalam. Ada yang persiapan mau turun, ada yang mencari posisi lebih nyaman, (dan belakangan saya ketahui, ada yang sedang berusaha mencopet hengpon saya).</p>
<p>Halte berikutnya, Kelapa Dua Sasak, beberapa orang turun. Karena saya berdiri pas nempel di kaca pintu busway, otomatis saya tersenggol beberapa penumpang, hal yang biasa terjadi. Setelah selesai, saya mengambil posisi lagi. Di halte berikutnya, Pos Pengumben, ada beberapa penumpang yang turun lagi, tapi kali ini tidak berdesak &#8211; desakan.</p>
<p>Saya mempunyai kebiasaan setiap beberapa saat memeriksa barang &#8211; barang yang saya bawa. Ketika menyadari kantong kiri bagian depan celana jins saya kosong, pikiran pertama saya hengpon saya itu jatuh. Meminjam hengpon temen saya, saya telpon HP saya. Masih ada nada sambung.., lama.. dan tidak diangkat. Saat itu busway sudah sampai lagi ke halte Medika Permata Hijau. Ketika saya coba telpon kedua kalinya, sudah tidak ada jawaban. Sah.. HP saya sudah dimatikan.</p>
<p>Kecurigaan pertama sebagai manusia, tentu tertuju orang &#8211; orang yang berada di sekitar saya. Hingga akhirnya beberapa saat kemudian satu persatu penumpang mulai angkat bicara. Mereka curiga dengan satu orang pria yang dari tadi gerak &#8211; geriknya mencurigakan. <span id="more-776"></span>Dengan kondisi busway yang padat penumpang seperti itu, dia bolak balik hilir mudik di dalam, dan *nempel &#8211; nempel* dengan penumpang lainnya. Tapi mau bagaimana, mereka tentu tidak mau menuduh orang sembarangan. Apalagi belum melihat langsung aksinya. Terakhir yang mereka lihat dia memang berdiri mepet saya, dan langsung turun di halte Kelapa Dua Sasak (halte pertama setelah halte tempat saya naik).</p>
<p><strong>Sikap Petugas Busway </strong></p>
<p>Begitu melihat gelagat saya yang seperti orang kehilangan barang, petugas di dalam busway cepat tanggap. Dia segera bertanya, dan setelah mendengar bahwa HP saya hilang, dia segera berkoordinasi dengan teman &#8211; temannya. Dengan menggunakan HP nya, dia menelpon petugas &#8211; petugas lain di halte berikutnya dan halte yang telah kami lewati.</p>
<p>Di perhentian halte berikutnya, setiap penumpang mau turun, ditahan dulu. Si petugas langsung meminta bantuan petugas dari halte tersebut untuk memeriksa satu persatu penumpang yang akan turun.Di halte berikutnya lagi, satu petugas keamanan TransJakarta ditambahkan, dan naik ke dalam busway. Walaupun mereka telah mendengar dugaan pelaku sudah turun di Kelapa Dua Sasak, prosedur tetap mereka lakukan. Selain itu, petugas keamanan tadi juga segera menghubungi teman &#8211; teman lainnya lagi untuk persiapan pemeriksaan di halte &#8211; halte berikutnya. Sayangnya, petugas di halte Kelapa Dua Sasak tidak bisa dihubungi, sehingga tidak bisa dilakukan pemeriksaan ke penumpang yang dicurigai tadi.</p>
<p>Sampai di daerah Bungur (kalau tidak salah), busway berhenti di tengah jalan. Dan pintu dibuka. Ternyata ada 2 personil keamanan lagi ditambahkan, dan segera mengambil posisi di pintu depan dan pintu belakang. Setelah itu, di setiap halte berikutnya, setiap penumpang turun dilakukan pemeriksaan.</p>
<p>Saya (dan para petugas) itu sepertinya memang sama &#8211; sama merasa HP saya itu sudah tidak mungkin lagi ditemukan. Pemeriksaan itu mungkin juga dilakukan karena memang mengacur pada standar operasi yang berlaku.</p>
<p><strong>Asumsi</strong></p>
<p>Saya termasuk cukup *ketat* menjaga ,barang &#8211; barang saya ketika naik kendaraan umum. Tetapi ketika saya sudah menaikinya berkali &#8211; kali, dan hampir rutin, &#8216;ke-ketat-an&#8217; itu berkurang. Karena saya juga belum pernah mendengar ada yang kecopetan di sepanjang koridor 8 (jalur Harmoni &#8211; LebakBulus). Apalagi di sekitar jam 6 sore, hampir semua penumpang isinya adalah pegawai kantor yang pulang kerja, kalau tidak ya anak &#8211; anak muda yang mau ke PIM.Sangat kecil kemungkinan ada copet di dalam busway. Jadi saya mengambil asumsi : AMAN.</p>
<p>Tapi namanya tindak kriminal, kata Bang Napi : Tidak cuma karena niat pelaku, tapi karena ada kesempatan. Dan mungkin saat itu dia memang sudah niat, ditambah saya tanpa sengaja memberi kesempatan. Terjadilah.</p>
<p>*Siap2BacaKolomBuyersGuideTabloidPulsa* <img src='http://okto.silaban.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>[link]</p>
<p>Cerita lain soal copet dari lae Sirait.. (LOL) : <a href="http://julius.sirait.net/post/21135804/biased">http://julius.sirait.net/post/21135804/biased</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okto.silaban.net/2010/02/general/copet-di-busway-itu-nyata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Web Developer Basic Knowlegde</title>
		<link>http://okto.silaban.net/2010/02/website/web-developer-basic-knowlegde/</link>
		<comments>http://okto.silaban.net/2010/02/website/web-developer-basic-knowlegde/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 12:28:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Okto Silaban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Website]]></category>
		<category><![CDATA[webdev]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okto.silaban.net/2010/02/general/web-developer-basic-knowlegde/</guid>
		<description><![CDATA[Berikut item &#8211; item dan contohnya :
- Server Side Programming language (PHP, Python, Ruby, dll)
- Front End Scripting Language (HTML, CSS, JavaScript, dll)
- Framework (CakePHP, Django, Ruby on Rails, dll)
- JavaScript Framework (JQuery, Mootools, ExtJS, dll)
- Database Server (MySQL, PostgreeSQL, dll)
- WebServer (Apache, Nginx, dll)
- Revision Control System (Subversion, Git, dll)
Untuk tiap item itu, kuasai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut item &#8211; item dan contohnya :</p>
<p>- Server Side Programming language (PHP, Python, Ruby, dll)<br />
- Front End Scripting Language (HTML, CSS, JavaScript, dll)<br />
- Framework (CakePHP, Django, Ruby on Rails, dll)<br />
- JavaScript Framework (JQuery, Mootools, ExtJS, dll)<br />
- Database Server (MySQL, PostgreeSQL, dll)<br />
- WebServer (Apache, Nginx, dll)<br />
- Revision Control System (Subversion, Git, dll)</p>
<p>Untuk tiap item itu, kuasai salah satu aja (dengan dalam) tidak usah semuanya, bisa mabok ntar..</p>
<p>T : Tapi kok ada lowongan yang mensyaratkan bisa semua yang ada di contoh tiap item itu? Malah kadang nambah diminta bisa VB, .NET, Java, sampe Cisco segala?<br />
J : Mmmm&#8230; Ada juga lho yang mensyaratkan bisa perbaiki genteng bocor..</p>
<p>*yangpentingupdateblog*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okto.silaban.net/2010/02/website/web-developer-basic-knowlegde/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
