Linuxer yang Kecewa

Tags: ,

Mereka yang *terjerumus* ke dunia Linux punya alasan yang berbeda – beda. Ada yang karena tertarik saja, terpaksa (seperti saya), ingin terlihat cool (jendela hitam itu keren po??), penasaran, cuma pengen coba – coba, dan masih ada banyak alasan tak masuk akal lainnya.

Sebagian dari mereka ini akhirnya menjadi pengguna Linux yang militan. Begitu semangat mempromosikan Linux. Bahkan dengan begitu semangatnya membuat flyer tentang bodohnya *kita* selama ini memakai software bajakan, apa akibatnya, penegasan ancaman penjara dari UU Haki, sampai masalah masuk neraka. Silahkan tertawa, tapi saya pribadi pernah melakukannya sendirian di kampus waktu di semester 2.

Ketika sudah jadi Linuxer-militan ini, seringkali fanatisme akan Linux menjadi begitu *parah*. Mereka yang menggunakan software bajakan dianggap sebagai manusia paling berdosa, pelanggar UU, bodoh, dst. Oh iya, dan biasanya jadi anti-Microsoft.

Tak lupa para pahlawan dunia opensource pun menjadi idola mereka, seperti Linus Torvalds, Richard Stallman, dll. Di tingkat lokal (Indonesia) pun Linuxer-militan ini punya idola juga, seperti …, …, …, *tak usah disebutlah.. nanti pada ge er (ha..ha..). Ya anda tahulah siapa – siapa mereka.

Tapi dunia bagaikan runtuh, ketika Linuxer-militan ini mengetahui, para pahlawan opensource lokal mereka juga *bersentuhan* dengan dunia *propetiari*.. mmm.. ya maksud saya memang Windows.

Dari beberapa sumber (kadang blog si idola tersebut, atau web perusahaannya, milis, seminar, mulut ke mulut) diketahui bahwa para idola mereka ini ternyata sehari – hari justru menggunakan software propetiary. Ada pembuat distro Linux lokal yang tidak menggunakan distro buatannya itu, dan kemudian menjalin kontrak dengan Microsoft untuk bidang akademik. Ada juga yang gencar mempromosikan Linux & open source, tetapi perusahaannya berkutat dengan training seputar Microsoft dan software – softwarenya.

Di tingkat lebih kecil, ada anggota komunitas Linux yang justru malah akhirnya *berpindah jalur* ke jalan tol berlogo Jendela. Ada juga anggota komunitas yang begitu lihainya berdebat mengenai migrasi ke Linux, tetapi ternyata di kosnya dia menggunakan Windows untuk kegiatan sehari – harinya.

Masih belum cukup. Fakta lain yang terungkap adalah perusahaan – perusahaan lokal yang terkenal sebagai penyedia support Linux, juga menyediakan produk & servis untuk software yang hanya jalan di Windows.

Sampai disini, ada saja Linuxer yang kecewa. DULU saya juga termasuk salah satunya. Apalagi waktu itu saya masih begitu fanatiknya.

Lalu? Ya lambat laun sudut pandang saya yang berubah. Saya tidak menjadi sengit. Dulu saya kecewa karena salah saya sendiri memegang konsep yang keliru. Beruntung saya bisa sadar kesalahan saya. Sekarang kata kunci yang saya pegang adalah, yang terbaik itu memang “menggunakan software legal”. Terserah OS nya apa. Tetapi lebih baik lagi kalau itu memberi *efek baik* jangka panjang. ;)

Tapi, saya sekarang bertanya – tanya, selama transisi pergantian sudut pandang saya ini, adakah Linuxer lain yang (masih, atau baru saja) dikecewakan (seperti halnya saya dulu)?

NOTE: Don’t get me wrong.. Tulisan ini hanya merepresentasikan bahwa di luar sana ada para Linuxer yang sejak awal menggunakan pondasi konsep yang tidak seharusnya. Saya sendiri butuh waktu lama untuk menyadari kekeliruan saya.

Terkait : Linux dan Sebuah Kebohongan



66 Comments

  • At 2009.02.02 09:27, dudi said:

    hehehe… pada akhirnya perut akan bicara kan ok. dan aku setuju pada prinsipnya memang ‘be legal’ jadi prioritas utama. selama legal ya sah-sah aja kok.

    kalo masalah seleb2 IT di indonesia yang pake perangkat proprietary… itu sih wajar-wajar aja. malah ada yang jadi iklan-nya microsoft dengan foto close up yang besar :) .

    • At 2009.02.03 15:38, Okto Silaban said:

      Saya rasa juga seperti itu Om

    • At 2009.02.02 09:36, shoodeck said:

      Kalo saya separuh militan, cuman gak hidup mati pake Linux.
      Tools yang tepat untuk kerjaan yang tepat lah,
      dan sebisa mungkin legal :)

      Udah lama ngingetin temen2 yang lain jangan terlalu militan, karna gak semua bisa selesai dengan Linux. Tapi beberapa orang tetep aja ngeyel.

      Sekarang, kalo ada yang perlu solusi saya sarankan Linux dulu,
      kalo mereka ngeluh masalah belajar lagi ya saya sarankan Windows aja tapi legal.
      Kalo ada yang ngeluh masalah virus biasanya saya sarankan pake Linux aja, apalagi kalo kerjaannya sekedar ngetik dokumen + spritsit + email + browsing. Seperti kata orang, nanggulangi virus di windows sama susahnya dengan menambal kapal bocor di lautan.

      Eniwe, gak usah fanatik banget lah sama Linux, gunakan tools yang tepat untuk tiap kerjaan:
      Mau jalanin aplikasi server dan jaringan? ya pake Linux
      Perlu server yang lebih aman lagi by default? ya pake OpenBSD
      Perlu GUI yang nyaman untuk desktop? ya pake Mac

      • At 2009.02.02 10:18, silent said:

        hahahaha
        Sesuatu yang berlebih itu memang tidak baik.

        • At 2009.02.02 10:41, jpmrblood said:

          Yah, itu mungkin karena mereka melakukan setengah hati. Motivasinya mungkin bukan sungguh-sungguh atau mereka sedang jatuh ke dalam pencobaan. :P

          Tapi, tenang aja, masih banyak yang pake GNU/Linux dengan setia hanya saja mereka low-profile. Hahaha.. pengen sebutin contoh, tapi takut narsis. Anda masih pake, ‘khan? Terdaftar ke planet Ubuntu-ID ud jadi seleb, loh… :P

          Yang pasti, dunia di luar sana (kecuali Indonesia), rame-rame lagi transisi ke open source. Korporasi global bahkan sedang pelan-pelan ke sana. Jadi, tinggal tunggu waktunya mereka transisi (tentu tidak 100%) tapi dominan. Indonesia? Sekali lagi, cuma tertinggal dan termangu, seperti pabrik sepatu yang tidak berinovasi lalu mati ditinggal vendornya yang pergi ke Vietnam.

          Intinya, jangan setengah-setengahlah.

          • At 2009.02.03 15:41, Okto Silaban said:

            Kalau saya sudah tidak pakai Linux, tidak mungkin saya menuliskan postingan ini ;)

          • At 2009.02.02 10:43, hielmy said:

            untunglah saya tidak seperti itu. saya pengguna Linux (untuk kebutuhan sehari2) baru, walaupun kenal Linux udah 4 tahunan. sudah berbulan2 untuk komputer pribadi tidak pernah pakai Windows kecuali di tempat umum atau komputer teman. saya cinta Linux tapi tidak benci Microsoft, saya anti bajakan tp tidak suka Richard Stallman, saya sering mengajak orang menginstall Linux di komputernya tapi masih bersenang hati menggunakan Windows, masih berharap punya mac, belajar mengenal Solaris. jadi saya termasuk apa ya pak? :D

            kalau saya menyebut diri saya termasuk orang pendukung “software legal”, apapun itu, mau FOSS, proprietary, freeware kek, apapun asal masih legal. saya kadang suka kesel sama org yg terlalu fanatik, kyk punya dia yg paling bagus aja. ujung2nya lahir fenomena “Linux vs Windows”, ” Linux vs BSD”, “Windows vs Mac” bahkan sampai ada “Free software vs Open Source” *RMS mode* :D cape deeeee……

            • At 2009.02.02 10:57, Vavai said:

              Orang yang berharap biasanya kecewa :-)

              • At 2009.02.03 15:52, Okto Silaban said:

                Mungkin bukan berharap Mas, cuma berasumsi yang kelewat pede.. :D

              • At 2009.02.02 11:17, Toni @ NavinoT said:

                Judulnya bombastis. Semoga tidak ada orang-orang ring-0 dan ring-1 yang ngebom blognya Okto. Hahahaha.

                @dudi
                Iya, pada akhirnya dunia bisnis hanya peduli yang legal. Dan kalau bisa yang murah :D

                @Vavai
                Yang berharap dan harapannya tidak tercapai, baru kecewa. tapi kalo harapannya tercapai ya beda lagi. Hehehe, Jgn bilang gitu mas. Mari kita semangati Okto untuk tetap berharap. Without hope, hidup bukan hidup lagi namanya :D

                Ayo Okto, ini belum saatnya menyerah! *ngomong apa sih ini*

                • At 2009.02.03 15:52, Okto Silaban said:

                  Ganbatte..! *kok makin gak nyambung.. LOL

                • At 2009.02.02 11:31, Albert said:

                  Jadi militan memang memiliki resiko tinggi untuk kecewa.

                  Kalo saya, pake WinXP legal, software lainnya juga pake yang legal. Kalo gak kuat beli yang M$ punya, ya cari padanan freewarenya.
                  Kecuali kalo kepepet (lho?) :D

                  • At 2009.02.03 15:53, Okto Silaban said:

                    He..he.. Ya, hukum kalo kepepet itu dalam semua lini kehidupan seringkali “dilegalkan” kok.
                    mmmm.. termasuk Kunang kah? *kidding.. :D

                  • At 2009.02.02 11:56, suari said:

                    Untung saya tidak terlalu militan :P
                    Sudah hampir 10 thn pake Linux (dulu pernah utk kegiatan server, skrg lbh banyak utk desktop sehari-hari), pernah ikut training ini-itu, bahkan pernah ngajar kursus jg :) , tapi buat saya sih Linux itu adalah pilihan, dari sekian pilihan yg ada. Kadang2 jg kita tdk bisa memilih — tempat kerja saya jg masih pake full MS legal utk desktop. Tapi yang penting apapun yg dipilih, harus yg bertanggung jawab (legal, tepat guna), dan bermanfaat. Bener ga? ;)

                    • At 2009.02.03 15:54, Okto Silaban said:

                      setuju kang

                    • At 2009.02.02 12:56, feha said:

                      hahaha….membaca tulisan ini kok ngena banget di saya yah?
                      saat ini mind set saya juga sudah berubah ke ’solusi’. jika itu baik (bisa legal, cost reachable, dsb) dan bisa membantu saya mengatasi masalah atau memenuhi kebutuhan saya, yah akan saya gunakan. Gak peduli mo Linux kek, Windows kek, Mac kek, Solaris kek, dan kek-kek yg lain :D

                      • At 2009.02.03 15:54, Okto Silaban said:

                        berganti mind setnya setelah ke Belanda kah Mas? :D

                      • At 2009.02.02 14:47, setiajie said:

                        Pakai Linux atau Pakai Windows (diutamakan yang legal) sebenarnya tergantung kebutuhan dan kondisi keuangan / anggaran. Kalau bisa sih untuk bisnis ya jangan pakai Windows maupun software-2nya yang bajakan alias tidak legal, ibaratnya mencuri untuk modal usaha.

                        • At 2009.02.02 15:41, bambang said:

                          mas Okto, mengingatkan saya pada jaman kuliah juga. saya juga dulunya pengguna linux militan, tapi baru sadar kalo pandangan saya salah ketika sudah bekerja. yg dibilang mas Okto memang benar. yg terpenting adalah penggunaan s/w legal. nggak peduli itu windows atau linux yg penting dapat berfungsi ketika kita membutuhkannya. sayapun kerja sehari2 juga menggunakan MS windows yg legal, di rumah menggunakan dual boot.

                          saya setuju sama mas suari, menggunakan linux adalah pilihan, menggunakan windowspun juga pilihan. semuanya tergantung kebutuhan dan kondisi masing2. tapi ya balik lagi ke topik yg tadi, sesuatu yg berlebih memang tidak baik hehe..

                          • At 2009.02.02 16:54, pinehas said:

                            HAlo bang… bukan soal LINUX tapi mau tukeran link,,, Add Bang yang punya abang udah ku add. GBU

                            • At 2009.02.02 18:41, rotyyu said:

                              Dan sepertinya yg banyak kecewa ini kebanyakan datang dari golongan mahasiswa, yg masih hijau dengan idealismenya yg masih menggebu2………..

                              • At 2009.02.03 15:59, Okto Silaban said:

                                Pengalaman juga? ;)

                              • At 2009.02.02 20:52, kunderemp said:

                                Pahlawan lokal ini, inisialnya siapa yah? RMS46? IMW? BR? :P
                                Dulu tahun 2006 (eh atau 2004 yah?), salah satu juragan kambing (masih mahasiswa saat itu — orangnya sempat komentar di atas tuh) nantang calon ketua BEM UI di Fasilkom UI, “gak usah Linux deh.. yang penting, tuh komputer di BEM, legal sistem operasinya. Windows juga boleh”.

                                Jadi kalau di Fasilkom UI, kayaknya gak sampai sebegitu fanatiknya :P

                                • At 2009.02.03 16:02, Okto Silaban said:

                                  Iya, justru yang sangat fanatik itu seringkali berasal dari lingkungan bukan orang – orang IT.

                                • At 2009.02.02 21:00, paman tyo said:

                                  saya awam dalam soal ginian. ketika persoalannya sejak awal memang ideologis, duh memang bisa makan hati ya. tapi bagaimana baiknya, saya juga ndak tahu.

                                  • At 2009.02.03 16:03, Okto Silaban said:

                                    Tapi paman tetep pake yang legal kan? :D

                                  • At 2009.02.02 21:06, zam said:

                                    yup.. aku full pake linux. dan saya ndak membenci MS. yg membuat saya kecewa, ada beberapa vendor yang belum punya versi aplikasinya di linux..

                                    • At 2009.02.03 16:04, Okto Silaban said:

                                      Nah itu dia satu masalah. Vendor belum pada support. Mungkin ada kontrak – kontrak tertentu dengan pihak OS lain ya.

                                      • At 2009.02.03 16:29, opr said:

                                        Masalahnya bukan karena kontrak ekslusif, tapi karena gak ada yang mbayari.
                                        Pengembangan di atas linux, windows, atau apapun pasti membutuhkan resource (orang, waktu, uang) khusus. Kalau tidak ada customer yang meminta (dan membayari) untuk mengembangkan aplikasi spesifik di atas linux, ya vendor akan memilih platform yang paling cost-effective, apapun itu.

                                    • At 2009.02.02 22:59, cindycute said:

                                      ada juga kok M$ militan yg arogan memakai emosi waktu interview saya di salah satu perusahaan It consultan , dia bilang ” linux ga bakal buat kamu kaya”, dengan memamerkan piagam penghargaan dari M$kocok. dan dia sendiri kewalahan soal menangani virus local yg menghancurkan software license di clientnya.
                                      so buat apa seh kecewa. mas belajarnya tangung2 kalee.
                                      jangan2 Okto kecewa di tinggal kawin sama pacarnya ya.duku

                                      • At 2009.02.02 23:17, total crusty said:

                                        anak buah roy suryo ya, wkwkwkwkwkwkwkwk

                                        • At 2009.02.02 23:53, jpmrblood said:

                                          Numpang komen sekali lagi.

                                          Ini komentar saya tentang perlunya militansi terhadap opensource:
                                          http://jpmrblood.blogspot.com/2005/10/answering-josef.html

                                          Bukan karena kita bego atau naif, tapi karena resistensi terhadap opensource begitu tinggi maka perlu militansi yang tinggi untuk melawan resistensi tersebut. Tentunya, militansi tanpa tujuan adalah suatu hal yang byar-pet, tapi seperti apa yang saya nyatakan seperti di blog itu, VISI dari penggunaan open source di Indonesia adalah MENINGKATKAN DAYA SAING INDONESIA.

                                          Sulit? Tentunya.
                                          Butuh waktu? Pastinya.
                                          Gak mungkin? Tentu tidak.

                                          Resistensi terhadap opensource sekarang tidak seperti dulu, walau memang Indonesia tidak seprogresif EU, Brazil, dll dalam penggunaannya. Tapi, kalau mahasiswa2 sekarang tetap berpegang pada idealisme, pastilah perusahaan2 pada bergeming. Pertama, tuntutan global yang memang mengarah kepada openness. Kedua, karena mahasiswa2 ICT yang *kompeten* pengguna opensource.

                                          Here’s a clue: (well, several clues)

                                          Kebanyakan institusi pendidikan tinggi menghasilkan tenaga ICT siap kerja bukan siap membangun. Opensource bukan hanya menghasilkan biaya rendah tetapi membangun sikap *ulet* dan kreatif untuk tidak menyerah pada keadaan. Siapa yang menggunakan GNU/Linux begitu lama dan tidak tertarik untuk oprek2? Oprek2 adalah sifat dari riset, riset adalah bagian dari investasi *jangka* *panjang*.

                                          • At 2009.02.03 16:07, Okto Silaban said:

                                            Saya setuju dengan militansi software, selama di jalur yang benar. Bukan militansi yang membabi buta tanpa mau berpikir terbuka.

                                            Dengan adanya opensource, kalau disikapi dengan benar, saya yakin akan membuat daya saing negara kita semakin bagus.

                                            • At 2009.02.05 17:40, jpmrblood said:

                                              Terbuka? Emang FOSS itu terbuka. :P

                                              Untuk lepas dari narkoba dibutuhkan niat yang benar-benar kuat dan keras. (ex-junkies pasti tau maksud saya dengan kuat dan keras)

                                              Untuk lepas dari ketergantungan proprietary s/w, butuh niatan yang bener-bener keras. Nah, kalo pikiran terbuka yang dimaksud adalah baru mentok dikit ud nyerah total dan melepaskan idealisme, maka saya katakan tujuan memperjuangkan FOSS bagi saya adalah sia2. FOSS adalah sarana untuk membuang mental instan tersebut dan bisa menumbuhkan sikap riset.

                                              Jadi, jangan menyerah dengan FOSS, teruslah. Kalo mulai mentok dengan proprietary, cari padanannya dan mulai *gunakan* s/w FOSS itu sendiri. Lalu, ajak sekeliling buat nyoba. Emang terkadang proprietary harus dipake kalo gak ada padanannya, tapi bukan berarti tidak ada, mungkin saja kita belum ketemu. Ya, coba terus cari.

                                              Gimana? Masih pengen jadi militan FOSS terus?

                                              Mudah-mudahan masih.

                                              • At 2009.02.10 17:33, Okto Silaban said:

                                                Ha..ha.. Beberapa orang yang komentar disini salah tangkap. Saya masih *dan mudah2an akan terus* pro Linux & Open Source. Kalau tidak tentu saya tidak akan bertahan di KPLI Jogja sampai 5 tahun ini..

                                                Yang mau saya tegaskan, OS apapun yang kita pilih, kita tetap harus berpikiran terbuka. Legal itu tentu lebih baik daripada ilegal, tapi *menurut saya* lebih baik lagi kalau legal dan opensource ;)

                                                • At 2009.08.17 20:58, jpmrblood said:

                                                  Hmm.. baru baca lagi… sori. Pas saya baca ulang komen saya, bernada seperti menyerang, yah.. Well, maksud saya, sih, jangan menyerah dengan FOSS. Begitu maksud komen saya, hehehe..

                                          • At 2009.02.03 00:17, Irwin said:

                                            kalo saya sih cuma bilang: Dapatkan yang terbaik dari segala hal yang bisa di eksplorasi. GNU-GPL, Open Source, Proprietary adalah warna warni kehidupan. Saya tiap hari menggunakan Linux dan kawan kawan tapi saya tidak merasa perlu menjadi seorang militan, saya tetap menggali pengetahuan baik itu Open Source maupun proprietary ;-)

                                            • At 2009.02.03 03:43, Ivan @ NavinoT said:

                                              Okto, sampeyan ora perlu kecewa. Kalo iso dipake, yo dipake. Kalo ra iso, yo pake jendelo wae. Pake Mac yo ra popo, la sexy toh…. :)

                                              HUAHAHA ….

                                              Linux perlu satu manajemen komunitas yang benar semacam Firefox, sehingga bisa menciptakan produk yang terarah dan tidak membut distro sendiri2.

                                              • At 2009.02.03 16:16, Okto Silaban said:

                                                Firefox itu mirip dengan Yayasan.. *ya cen yayasan toh? Firefox Foundation

                                                Lek linux iku podho ambek Komunitas *yo pancen komunitas juga.. He..he.

                                                Firefox yo isih nduwe *distro* toh : IceWeasel, Flock, dll.

                                              • At 2009.02.03 06:35, total crusty said:

                                                kecewa di tinggal kawin pacar mas. komen kok milih2 yg baik2 buat situ di pasang. keliatan bego nya lu okto. okto di rubah nama jadi otdo = otak dongo.

                                                • At 2009.02.03 06:50, total crusty said:

                                                  jangan salah ada juga M$ militan, pengalaman saya waktu di interview di perusahaan It consultan dengan bangga dia bilang “buat apa linux ga akan buat kamu kaya”, dengan piagam M$ di meja berjejer.
                                                  menurut gw open source, linux ada kebebasan dari belenggu. bukannya lu harus ke makan arus gelobalisasi dan di jajah kapitalis.
                                                  gw pake ubuntu 8.10 buat maju band gw lewat aplikasi yg ada. gw juga bisa ngasih makan ke anak terlantar dari kreasi gw di ubuntu. dan sekarang gw mampu ngajarin anak jalanan buat belajar linux gratis (ga malu sama anak jalanan) . itu yg penting bukannya bangga sama lu punya license tapi lu harus bangga kalo udah berbuat baik demi orang banyak.
                                                  UBUNTU = kemanusian , inget semboyan itu.
                                                  belajar jangan setengah2. mahasiswa tempe . mahasiswa kok kalah sama anak punk seh

                                                  • At 2009.02.03 11:52, Dimas said:

                                                    Saya pake linux karena gak banyak virusnya. Bosen juga paranoid tiap nancepin USB. Mungkin ini menyebabkan saya agak resist dengan Windows. Gimana gak, lha tiap ditanya org ‘mas virus ini obatnya apa?’ atau ‘antivirus yang sip apa?’, saya jadi bingung @_@. Timbang dikira anak TI kok telmi ya sekalian aja saya anti windows :D .
                                                    Klo Mac, wow jelas mau :D

                                                    • At 2009.02.03 13:07, Usman said:

                                                      Saya lebih suka dengan pahlawan2 yg 100% Open Source dan Free (Freedom bukan gratis) :) . Ada kok, tapi bukan di Indo :) .

                                                      • At 2009.02.04 10:00, budiw said:

                                                        Saya termasuk yang kecewa, tp saya baru sadar bahwa OS yg mereka pakai itu memang legal. Slogan yang menurut saya baik adalah, yaitu, “Gunakan OS yang Legal, Gunakan GPL/Opensource”.
                                                        –budiw

                                                        • At 2009.02.04 14:00, Parus said:

                                                          Alasan saya pake linux: Karena asik buat dioprek, dan gratisan. Tapi, sayangnya masih ada program di Windows yang gak ada padanannya di Linux, serta masalah driver hardware.
                                                          Alasan saya ndak pake Windows: Udah terhitung mahal, rentan virus pula. Walau saya dapet copy aslinya (legal) dari pihak kampus, ujung2nya dual boot juga. Dan akhirnya malah Kubuntu only. Hehehe…
                                                          Alasan saya ndak pake Mac: karena belom punya. Hehehe… Pengen punya, suatu saat nanti.

                                                          • At 2009.02.04 17:08, Irwan Ak said:

                                                            Ya, kan ada tiga golongan yaitu : Microsoft minded, Linux minded, dan yang terakhir ini golongan “market” minded…….

                                                            • At 2009.02.05 07:41, dani said:

                                                              mas okto,
                                                              ntah saya dl pernah jd militan ato ngga :D
                                                              tp yg pasti dl saya sempat merasa bahwa distro yg saya pake saat itu adalah distro terbaik buat saya pribadi
                                                              padahal distro yg dipake berubah-ubah
                                                              tiap ganti distro baru, rasanya itulah yg terbaik
                                                              walau rasanya saya tdk pernah memaksa org lain utk spt saya

                                                              di komunitas akhirnya memang ada aliran garis keras
                                                              menjelek2kan distro hingga os lain, bahkan sesama open source
                                                              tp kebanyakan yg militan biasanya krn blm merasakan kekurangan distro yg dipakenya
                                                              atau tutup mata akan itu :)

                                                              sbg pemula sampai saat ini pun, saya masi bingung jika ada yg membela mati distro yg dipake, tp tetep menjelek2an distro/os lain bahkan yg blm pernah dicobanya

                                                              kl bole sih, saya pengen make semua os dan distro,
                                                              tp tetep memasyarakatkan open source dan os legal
                                                              jd ngga masalah os apa yg dipakenya

                                                              saya memaklumi beliau2 yg promosi open source, tp masi make propietary (berharap legal)
                                                              krn tuntutan lingkungan kerja

                                                              minimal yg militan itu memang bs bantu2 saya make linux selama ini :D

                                                              • At 2009.02.05 15:20, Charly Silaban said:

                                                                bah.. rame betul amang… huehehehe… Aku sudah coba pindah ke Linux tapi ngga bisa-bisa euy.. Ngga ada Adobe aku gigit jari soalnya hahaha..

                                                                • At 2009.02.10 17:29, Okto Silaban said:

                                                                  Kan ada The Gimp amang :) .. *ya walaupun lumayan memakan waktu buat belajar teknik2 di GIMP

                                                                • At 2009.02.07 15:37, Kosha said:

                                                                  kalo saya sendiri sih udah jarang pake linux di desktop, abisnya ngga punya desktop jadinya lebih banyak pake di server :D

                                                                  walopun begitu filosofi GPL atau open source itu yang perlu tetap dilestarikan… :D

                                                                  *itu gw ngomong apaan sih*

                                                                  • At 2009.02.11 19:39, setiaji said:

                                                                    Sambil senyam senyum saya membaca artikel ini. Sungguh. Ini benar-benar yang saya rasakan saat ini. Tapi dari arah yang berlawanan dengan Okto. Dulu sekali, setelah saya lulus sekolah, di rumah, belum bekerja. Saya instal redhat 6.xx saya lupa versinya.

                                                                    Dari sana saya belajar pyhton. Salah satu bahasa pemrograman yang hebat, menurut saya :D Sampai saya ikut terlibat dalam proyek translate ke dalam bahasa Indonesia yang dipimpin Steven Haryanto. Entah lah, sampai sekarang saya tidak tahu kabarnya, sampai tiba-tiba ada buku di Gramedia yang isinya sama persis dengan yang saya lakukan dan teman-teman di tim translate.

                                                                    Saya dipanggil interview oleh perusahaan yang saya akhirnya bekerja disana hingga 6 tahun dengan hasil dari translate pyhton. Ya, hasil dari translate tersebut saya simpan di komputer dan saya otak-atik sendiri contoh-contoh scriptnya. Tapi apa mau dikata, tempat kerja saya hanya mau menerima ‘jendela’ sebagai platformnya. Its ok, karena mereka membeli secara legal. Tahun demi tahun bekerja di lingkungan jendela, tidak membuat hati saya luntur untuk selalu mencumbui penguin. Saya juga bingung, hati ini seolah menemukan tambatannya disana. Banyak sekali hal yang membuat saya tertarik untuk login, setiap hari.

                                                                    Di tempat yang baru sekarang, saya baru berumur 2 tahun. Belum banyak hal yang bisa saya andalkan selain hasil pengalaman saya bekerja di platform jendela. Tapi sekali lagi, cinta saya ke penguin tidak luntur. Damn ! Saya sekali lagi bingung dengan hati ini. Tapi apa mau dikata…hati tidak bisa dibohongi….Akhirnya, saya putuskan untuk menuruti hati ini mencoba lagi untuk login ke penguin. Sekarang cinta saya tertambat ke keluarga BSD. Hmmm masih satu varian kan…setidaknya… :D

                                                                    • At 2009.02.11 23:48, Okto Silaban said:

                                                                      Saya rasa tidak dari arah yang berlawanan Mas :) Kita masih di pihak yang sama kok.

                                                                      Ahh.. sepertinya memang banyak yang salah tanggap dengan apa yang saya maksud.

                                                                    • At 2009.02.12 05:00, Bonar said:

                                                                      Pragmatis saja. Selalu cari cara terefisien untuk melakukan sesuatu.

                                                                      Jika anda dekat dengan pelayanan ke customer yang gaptek, ya pakai MS. Ndak perlu ngotot untuk mengubah dunia.

                                                                      Jika Anda perlu something to impress orang seni or a cute model dari studio sebelah, perhaps pake mac bisa ok, toh darwin juga.

                                                                      Jika Anda memang memerlukan linux, ya pakai. Jika ada kesempatan untuk menerapkan linux (or any other opensource) di skala corporate, dan anda yakin sudah mempertimbangkan faktor support pada end user, ya lakukan.

                                                                      Tidak perlu ada kekecewaan, toh kita masih bisa pakai linux di sudut ruang, when we feel like it.

                                                                      Saya pribadi memakai windows (legal) untuk diskusi sehari2, just becoz i feel like it.

                                                                      Saya pakai linux untuk server storage yang less crucial albeit super intensive karena saya suka(!) konsep tokenizednya reiserfs(yang di freebsd belum didukung full), atau ngeboot linux via usb untuk melakukan hal-hal yang mencurigakan di tempat umum ;)

                                                                      Untuk kebutuhan yang amat secure seperti firewall, ya pake openBSD, karena saya suka PFnya serta konsep correctness by design-nya. Sampai sekarang jika saya tidak dapat menemukan diskusi yang menyenangkan atau novel yang seru untuk pergi tidur, ya saya baca ulang source kernelnya openbsd…

                                                                      untuk kebutuhan performance-intensive, saya jg spare box freebsd buat main2. Untuk main game, ya pake windows embedded, toh si MS kasi embedded studionya gratis, jadi bisa bikin my own flavor of ms windows.

                                                                      Fanatisme itu hanya untuk orang yang ingin merasa/menjadi spesial, whats the point larrr… No point of doing something different just for the sake of being different,

                                                                      or perhaps supaya kita feel good about ourselves dibanding tetangga2 sebelah yang ngebajak ? ah, too lame.

                                                                      Lalu, apa hebatnya kita membangga2kan pakai kode bikinan orang lain? pragmatisme saja cukuplah: “ah saya cuma end user, mau ms or linux ndak apa apa”

                                                                      Fanatism kills curiousity, it destroys self doubt and self skepticism. In the end, it kills the passionate thirst to learn something new.

                                                                      Your self-doubt is a great leap forward toward progresiveness of mind. I salute you.

                                                                      • At 2009.02.14 09:25, Toni @ NavinoT said:

                                                                        Heheheh,gpp salah tanggap.Toh komentarnya jadi lengkap dari berbagai sisi :D .

                                                                        Sakit memang kalau idealisme harus dicerabut. Lha wong itu alsan eksistensi kita jeh. Tapi kabarnya idealisme juga butuh dana, juga butuh strategi. Rejeki orang beda-beda. Ada yang bisa hidup total dengan Linux ada yang enggak.

                                                                        Berpegang pada idealisme yang salah itu bagian dari proses belajar. Jadi ya gpp lah seumpama masih banyak yang pegang ideliasme tersebut. Kalo gk salah,kapan ngerti benar? :p

                                                                        • At 2009.02.14 13:50, Rommi Ariesta said:

                                                                          Dikotomi propertiary dan free, closed source dan open source tetap menjadi perdebatan menarik. Mau pake propertiary atau free, linux based or windows based silahkan. Yang paling penting sesuaikan dengan kebutuhan. Dan hargai juga copyright seseorang.

                                                                          Izinkan untuk merekemondasikan FOSS sebagai solusi karena, semua kebutuhan kita sudah bisa tercover kok, kecuali utk sebagaian. Ini juga tidak membuang devisa kita keluar negeri untuk membeli produk berbayar. Selamat Memilih

                                                                          • At 2009.02.15 19:56, krida85 said:

                                                                            Saya sendiri sih tergantung kebutuhan, tapi saya jujur untuk keperluan tertentu sih linux bisa diandalkan tapi untuk keperluan tertentu juga saya masih memilih windows, yang jadi pertanyaan saya ” dosa ga ya kalau kita ngecrack program bajakan dari windows ? dan kadang itulah yang saya jadikan pertimbangan kita pakai linux….

                                                                            • At 2009.02.24 18:16, riswan said:

                                                                              memang di butuhkan ideliasme tinggi untuk menjadi pengguna linux bang okto :)

                                                                              ciwank.net
                                                                              warnet linux
                                                                              jl.pramuka no.15
                                                                              samarinda

                                                                              • At 2009.08.18 02:42, Okto Silaban said:

                                                                                Jadi karena itu ya saya hingga saat ini tetap jadi pengguna Linux?.. :)

                                                                              • At 2009.03.15 22:44, blackpenguin said:

                                                                                U just happy happy use opensource ya ? where’s your ethic?

                                                                                Opensource is good, good to learn not to use. u people thought u knew something about this penguin and the whole FOSS scenario. the truth what? indeed we got null contribution to the community! a sad fact of 240 millions nation, where’s the militant ? where’s the freak ? u think u die hard enough ? all just a dumbass user….hahaha

                                                                                Open source is something to explore about since the source is already open, you dont bother to reverse it anymore, learn it, hack it, involve and contribute in the community, become an expertise/guru and in the end be a part of the global change, what you can expect with indo people and gov ? where’s the industry they should build and provide about ? what’s the demanding skill we require ? all those clueless people will just lead you to a clueless life. i told you bro, we have a lack of culture in doing research and innovation and also lack of gov support, that one significant factor why opensource is not progressing in indo

                                                                                so, i hope, indo people, when we/you start hacking opensource, see it in broader meaning, dont care about indo scene, it’s an exciting global world wide movement, just be part of it while you were young, and there you go, you are demanded, an opensource talent!

                                                                                • At 2009.03.16 01:57, Okto Silaban said:

                                                                                  Nice thought.. I agree with you in certain points.. :)

                                                                                • At 2009.03.30 12:59, Donny said:

                                                                                  Wah, komentar dari blackpenguin nohok banget. Saya juga setuju dalam beberapa poin. Menurut saya pribadi, cara paling militan untuk mempromosikan opensource adalah dengan cara “mengobrak-abrik opensource” itu sendiri sampai-sampai menjadi sesuatu yang tidak-bisa-ditolak, karena kedahsyatannya.

                                                                                  Masih dalam opini pribadi saya, linux menjadi sebesar dan sedahsyat ini karena kekuatannya yang tidak bisa ditolak. Linus Torvalds tidak melakukan “injeksi” militan dengan berkoar-koar dimedia apapun untuk memakai linux, tapi dia melakukan sesuatu yang tidak bisa ditolak oleh dunia. Bahkan pada awal pembuatannya, beliau tidak menyangka linux akan sedemikan dahsyatnya sekarang. Dan sampai saat ini masih menganggap pekerjaannya adalah hobby–bukan militansi ( source )

                                                                                  Saya sendiri mungkin masih masuk kategori sangat awam dalam hal kontribusi dalam dunia opensource terutama linux, tapi sekiranya saya bisa, akan saya lakukan apa yang saya bisa kontribusikan agar linux bisa jadi lebih hebat lagi dan menjadi sesuatu yang -semakin- tidak bisa ditolak dunia.

                                                                                  –dari seorang non-programmer pecinta linux yang masih dualboot dengan windows, dan masih terus berharap akan memiliki mac suatu saat-yang juga akan didualboot dengan linux…

                                                                                  • At 2009.04.08 12:30, eoshicute said:

                                                                                    hmm.. klo boleh ikut berkomentar,yang menekan pak okto pada komentar2 diatas + para linuxer militan, menurut saya orang2 yang jauh lebih bodoh daripada pengguna windows :D

                                                                                    no hurt feeling, tapi seharusnya kita sadar, sebelum menjadi pengguna linux, kita belajar komputer and jadi ngerti komputer tuh karna OS apa ? windows toh :D bahasa kasarnya sih waktu kecil dididik sama windows, pas dah gede ketemu linux, langsung jelek-jelekin windows :p air susu dibales air tuba itu sih

                                                                                    saya seorang pengguna linux, dan saya setuju dengan pendapat pak Okto Silaban mengenai “menggunakan software legal” :) saya bangga menggunakan linux (saya menggunakan DVL dan ubuntu skarang ini), saya juga bangga menggunakan windows (karena windows saya asli) dan yang pasti, saya mendukung gerakan linux asal… tidak menjelek2kan OS lain. Inget.. semua OS itu ada kelebihan dan ekurangannya :D

                                                                                    cheers

                                                                                    • At 2009.04.08 15:28, Don Zafir said:

                                                                                      Tampaknya Anda termasuk orang-orang yang terbuka matanya.
                                                                                      Betul sekali, pengguna Linux yang militan a.k.a. Linux “zealots a.k.a. (istilah gua) pemuja Torvalds, hanya membuat para pengguna software propertiery kesel dan malah males mencoba Linux.

                                                                                      Kalo menurut gua pribadi, legal dan tidak legal tuh cuma sebuah hukum yang ada di secarik kertas. Apakah hukumnya adil? Belum tentu. Apakah gua bersedia “didorong-dorong” oleh para pembuat hukum? Tentu tidak.

                                                                                      Mari kawan-kawan, bergabung dengan komunitas AFOSS….
                                                                                      http://elzafir.wordpress.com/2007/05/23/potential-loss-of-piracy/

                                                                                      • At 2009.06.13 18:05, realsifo777 said:
                                                                                        • At 2009.06.21 00:16, Ahsanfile said:

                                                                                          Ini dari segi manfaat dan nasib jangka panjang

                                                                                          Buat saya yang masih nyubi di dunia linux, ternyata selama menggunakan linux bisa melipat gandakan pengetahuan di dunia komputer. Saya pemakai windows, 99% tempat kerjaku menggunakan windows, tapi selama bertahun-tahun kayaknya gak ada perkembangan sama sekali, yang ada cuma install ulang, update anti virus. Meskipun semua software adalah legal ( beli maksudnya ) tapi rasanya tetep lari ditempat.

                                                                                          Ya itulah akibat menggunakan software propertiery. Selamanya dijadikan pembeli dan pengguna. Stretegi dagang emang. Kembalinya ke urusan perut. Tapi setelah pake linux yang katanya gratis, justru pengetahuan ku sama windows nambah.

                                                                                          • At 2009.07.02 00:13, benny said:

                                                                                            Saya sependapat dengan anda, kita tidak perlu memaksa orang untuk memilih Linux. Itu hak mereka. Kalo dianggap baik, Insya Allah mereka pasti memilih LInux. Saya awam tentang TI, saya orang medis. Tapi saya memilih Ubuntu dan nyaman menggunakannya, tanpa meninggalkan windows. Karena instansi saya menggunakan windows, lingkungan saya juga banyak yang masih awam dengan Linux. Jadi saya rasa tidak perlu kecewa, ini adalah bagian dari pembelajaran. Salam hangat dari Kalimantan Timur :)

                                                                                            (Required)
                                                                                            (Required, will not be published)

                                                                                            sirsak