Properti dan Kemacetan Jakarta

Jakarta macet penyebab utamanya sih menurut saya bukan regulasi, pengemudi ugal-ugalan, angkot ngetem sembarangan, dll. Faktor paling besar sederhana sih: jumlah kendaraan. Baik itu sepeda motor maupun mobil. Penyebab jumlah kendaraan banyak? Properti.

Membeli tempat tinggal yang layak di Jakarta sangat mahal. Bagi sebagian besar pekerja di Jakarta sampai generasi ketiga pun mungkin rumah yang layak (secara lingkungan, lokasi, keamanan, akses, dll) tidak akan terbeli. Jadilah orang-orang membeli rumah di pinggir Jakarta (Serpong, Cibubur, Ciputat, Tangerang, Bekasi dll). Dengan geser ke pinggir Jakarta, anda bisa mendapatkan rumah dan lingkungan yang jauh lebih baik (setidaknya untuk sekarang) dengan harga yang mendingan.

Dengan lokasi rumah yang begitu jauh, timbul masalah baru: transportasi. “Ahh, gampang, naik mobil saja”, biasanya begitu kata marketer perumahan. Toh sudah banyak tol kan? Sayangnya tidak anda sendiri yang berpikiran seperti itu. Ada ratusan ribu pemilik mobil lain (mungkin jutaan) yang berpikiran sama. Jadilah orang-orang mengendarai mobil masing-masing dari pinggir Jakarta, lalu berkumpul di pintu tol, dan puncak pestanya di jalur-jalur pusat perkantoran; Kuningan, Sudirman, Senayan, dll.

Sekarang coba lihat, perumahan-perumahan di pinggir Jakarta mungkin 98% nya pasti menjual kalimat: “Dekat ke pintu tol”. Iya, akses ke pintu tol mungkin cuma butuh 5 menit, tapi keluar tolnya berapa lama?

Sepeda Motor

Oke, naik mobil sudah makin gak masuk akal. Sebagian akhirnya “mundur”, memilih naik sepeda motor saja dari pinggir Jakarta. Sebagian lagi malah dari awal tidak pernah punya opsi naik mobil. Awal-awal lancar, banyak jalan tikus. Tapi mereka yang “mundur” dari pengguna mobil ini pun harus bergabung dengan mereka yang dari awal memang menggunakan sepeda motor. Jadi jalan tikus yang sejatinya memang untuk dilewati “tikus”, akhirnya dilewati “kambing”, dan belakangan jadinya “gajah”. Alias, jalan tikusnya pun sudah macet tak bergerak saking penuhnya sepeda motor yang lewat.

Bukan itu saja, tidak semua orang kuat setiap pagi naik sepeda motor 1 jam, panas-panasan, selip-selipan, makan asap dan debu, plus ribetnya urusan parkir. Karena parkiran sepeda motor sering dianaktirikan di gedung-gedung mewah.

*makanya kadang saya sedih juga mendengar para pengendara mobil (yang notabene gak pernah naik sepeda motor seumur hidupnya), mengatakan: “Gue setuju sih kalau semua sepeda motor dilarang lewat di Jakarta..!”. Kesian tauk. Iya, pengendara motor yang bajingan memang banyak sih, toh pengendara mobil yang bangsat juga gak sedikit kan?

Bis

Oke, sebagian memilih naik kendaraan umum aja akhirnya. Bis misalnya. Tapi ini masalah juga. Jangkauan bis itu terbatas. Jelas bis gak masuk ke perumahan. Jadi harus naik ojek dulu ke tempat bis lewat. Lalu bisnya juga belum tentu lewat tujuan akhir kita. Bisa jadi harus lanjut busway, ojek atau malah taksi kalau kepepet. Ini belum lagi jumlah bis yang terbatas, lewat sedikit habis lah sudah. Jadwalnya tak tentu. Dan.., karena sama-sama masuk dan keluar tol, ya kena macet juga.

Oh iya, secara biaya juga tidak murah. Naik ojek dari kompleks perumahan ke tempat naik bis anggap saja misal 10rb, bisnya 14rb (TransBSD misalnya), lalu sambung ojek lagi di Jakarta, 10rb. Totalnya 34rb, pulang pergi jadi 68ribu (dibulatin 70rb lah ya). Sebulan jadi Rp 1.750.000,-. Nah, nambah dikit lagi bisa kredit mobil Ford Fiesta tuh.. :D

Kereta

Beruntunglah kita punya orang seperti Pak Ignasius Jonan. Sewaktu dia menjabat dirut, PT. KAI direvolusi. Walau ada sedikit kontroversi disana-sini, tidak bisa dipungkiri kereta api kita sekarang sudah lebih baik, begitu juga KRL. Nah, KRL ini akhirnya jadi pilihan setelah mobil, sepeda motor, dan bis. Banyak juga orang yang dari awal memilih moda transportasi ini. Sudah *lumayan* nyaman (di jam tertentu ya parah sih padatnya), tidak ada macet-macetan (kecuali kalau ada gangguan), dan biayanya murah. Rawa Buntu, BSD – Kebayoran Lama hanya 2000 rupiah saja, lebih murah dari sebotol air mineral. Apalagi air mineral di club seperti Equinox atau Blowfish. *eh.. :P

Tapi, ya ini bukan tanpa tantangan juga. Bis saja (yang biasanya) bisa berhenti sembarang di pinggir jalan, belum tentu melewati tujuan akhir kita, apalagi KRL yang stasiunnya sudah pasti. Banyak orang yang tetap harus melanjutkan perjalanan dengan ojek setelah turun di stasiun. Karena ojeknya sadar posisi tawarnya tinggi, kadang harganya jadi gak masuk akal.

Dan PR yang paling besar dari KRL ini adalah integrasinya dengan moda transportasi umum lainnya. Stasiun Kebayoran Lama contohnya, keluar dari stasiun yang ditemui adalah.. pasar basah (err..becek sih lebih tepatnya). Ya ada sih angkot lewat, tetapi itu artinya harus naik angkot ini, lalu lanjut lagi naik busway atau ojek. Dan seperti stasiun Kebayoran Lama, stasiun Palmerah maupun Tanah Abang juga tidak terintegrasi dengan busway.

Bus Gratis

Jadi saya bisa mengerti kenapa ketika sepeda motor dilarang lewat di Thamrin, sedikit sekali yang mau naik bis gratis yang disediakan pemda DKI. Ya, orang naik motor dari Cisauk, terus harus parkir (misal di sekitar Senayan), lalu naik bis atau ojek ke Thamrin, baru naik bis gratis. Ini artinya, gak “gratis” lagi sih. Entahlah kalau pemda DKI punya pertimbangan lain ya.

Apartemen

Baiklah, sepertinya moda transportasi tidak ada yang betul-betul nyaman dari pinggir Jakarta. Sebagian orang bakal bilang “Oke, gue tinggal di Jakarta aja. Gak harus rumah kok. Gue di apartemen juga gak apa-apa sih. Yang penting ntar gak ribet lagi urusan transportasi”.

Nah, apartemen juga belum jadi solusi sempurna sih. Apartemen di lokasi strategis harganya tidak murah juga. Belum lagi masalah parkiran. Belakangan saya dikasih tahu marketing salah satu apartemen bahwa rata-rata apartemen kelas menengah di Jakarta itu, perbandingan jumlah unit dan parkirannya adalah 6:1 s/d 8:1. Iya, untuk 6 sampai 8 unit apartemen, hanya ada 1 space parkir. Saya sudah lihat sendiri, ada apartemen di sekitar Kebayoran Lama, yang penghuninya baru sekitar 30%-an, tetapi parkirannya sudah 80% habis. Padahal parkiran ini berbayar loh.

Ini belum lagi karena nakalnya developer apartemen. Sepertinya banyak developer yang memang membangun apartemen tidak dengan mindset untuk dihuni, tetapi sebagai instrumen investasi saja. Jadi makanya dia tidak perduli dengan space parkir yang tidak memadai, maintenance yang asal-asalan, fasilitas-fasilitas yang tidak kunjung dibangun setelah serah terima unit, dll. Karena mereka tahu, sebagian besar konsumennya adalah investor yang juga tidak akan melakukan pengecekan detail seperti penghuni akhir.

Yaa.., bisnis properti itu emang big money sih. Gak heran banyak yang nakal. Sony aja yang core business nya teknologi, sekarang main bisnis properti juga tuh.

Kesimpulan

Jadi kalau anda kerja di Jakarta, dan sudah menimbang-nimbang untuk membeli rumah (atau apartemen), beragam masalah di atas bisa masuk pertimbangan. Ini kaya kucing-kucingan memang. Beli rumah di pinggir Jakarta, sambil berharap transportasi umum makin baik, tapi sepertinya kok lama banget ya. Bisa 10-20 tahun mungkin. Beli di tengah Jakarta kok ya selangit harganya. Terus banyak juga masalah-masalah tambahannya. Kalau nunggu transportasi umum bagus dulu, keburu naik selangit harga properti di pinggir Jakarta.

Kalau saya boleh saran sih cuma satu: Carilah properti yang tidak hanya akses ke tol saja yang bagus, tetapi akses ke transportasi umumnya juga, kalau bisa KRL. Menurut firasat saya, KRL (dan MRT tentunya) akan jadi kuncian, seperti halnya di negara-negara maju.

Sayangnya situs-situs pencarian properti seperti Rumah.com, Lamudi.com, dan Urbanindo.com belum menyajikan fasilitas pencarian ini dengan baik. (Ntar saya bahas di tulisan tersendiri deh). Selamat menimbang-nimbang.

Nexus 4 dan Beralih ke MIUI

Setahun lalu setelah kecewa dengan HTC Desire HD (yang katanya Androidnya bakal diupgrade ke ICS, ternyata gak jadi), saya memutuskan jika nanti saya membeli ponsel Android baru, saya hanya mau yang rilis dari Google aja, yaitu keluarga seri Nexus. Dan setelah “kebetulan” ponsel saya dijambret orang, akhirnya saya beneran milih Nexus 4.

Pertimbangannya sederhana saja, seri Nexus ini adalah ponsel standar Android, dengan kata lain jadi acuan dari sistem operasi Android. Semua fitur inti default Android harusnya paling bagus jalan di Nexus. Semua aplikasi Android yang ada di Google Play, seharusnya pasti bisa jalan di seri Nexus, karena (lagi-lagi) ini adalah acuan. Jadi saya tidak mau ambil pusing punya ponsel canggih tapi kepentok tidak bisa menjalankan fitur-fitur tertentu.

Kelebihan (dan mungkin sekaligus kekurangan) seri Nexus adalah tampilannya pun datar banget. Buat saya pribadi gak menarik. Bahkan dibandingkan ponsel-ponsel Android lain yang lebih murah, icon, template, dan theme Nexus ini jelek bagi saya.

Jadilah akhirnya saya ketemu dengan MIUI. Custom ROM, kalau istilah para pengoprek Android. Aslinya MIUI dibuat oleh Xiaomi untuk ponsel mereka sendiri. Tapi ROM nya dibuka untuk didownload dan dikembangkan. Dan (lagi-lagi) karena Nexus adalah acuan ponsel Android, pastinya ROM untuk seri Nexus tersedia, termasuk Nexus 4 yang saya pakai.

Jadilah saya pakai MIUI di Nexus 4 saya. Tampilannya cantik. Tidak sekadar theme, tapi sampai dengan tampilan detail di dalamnya. Ya.., ala-ala iPhone sih sebenarnya. Tapi setidaknya tampilannya konsisten. Tidak seperti default Android yang icon-icon dan keseluruhan UI nya terkesan tidak beraturan. Entah kenapa Xiaomi bisa membuat Android menjadi secantik ini, tetapi Google tetap bertahan dengan tampilannya yang tidak konsisten itu.

NOTE: Ini postingan draft bulan September 2014 lalu, baru diselesaikan sekarang -__-

Tokopedia vs Koprol

Sekitar tahun 2009, sewaktu berkunjung ke Jogja, saya dan seorang sahabat lama ngobrol soal startup-startup di Indonesia. Waktu itu yang cukup hot adalah Koprol. Menarik, karena eksekusinya serius. Tapi dalam pandangan saya waktu itu Koprol bukanlah sesuatu yang akan bertahan lama. Tapi lebih kepada trend. Seperti film bioskop, heboh untuk beberapa waktu, setelah itu jadi pembicaraan, tetapi orang-orang tidak lagi mau membeli tiket untuk menonton film ini beberapa bulan kemudian.

Waktu itu sahabat saya berpendapat lain, menurutnya Koprol di masa depan tetap akan besar, tapi mungkin tidak di kota besar lagi, mungkin geser ke kota “lapis dua”. Yang di kota besar cepat bosan, yang di daerah lebih lama mengadopsi trend, kurang lebih begitu ujarnya. “Kalau menurutku sih Tokopedia yang kans nya bakal bertahan lama.”, sanggah saya.

Tim Tokopedia yang (setidaknya di mata saya) terkesan low-profile, tidak gembar gembor di media, jarang “show-off” di acara-cara startup yang ramai kala itu, membuat saya justru yakin dengan potensi mereka.

Akuisisi Koprol

Pada Mei 2010, Koprol diakuisisi Yahoo. “Tuh kan bener, potensinya besar. Yahoo aja bisa lihat itu.”, ujar sahabat saya itu sumringah. Saat itu saya juga jadi agak ragu. “Ahh, mungkin memang saya salah melihat potensi Koprol.”. Belum ada berita heboh dari Tokopedia yang saya dengar kala itu.

Lalu di penghujung tahun 2010, dalam sebuah acara di Kempinski, tersebut kabar kalau transaksi perbulan yang terjadi di Tokopedia sudah mencapai sekitar 3 Miliar Rupiah per bulan. Yang kemudian dikomentari oleh CMO Kaskus kala itu, “Sori ya, di Kaskus kita sudah 6 Miliar per bulan.” sambil setengah bercanda. Tapi tetap tidak ada kesan gembar-gembor berlebihan yang dilakukan oleh Leon maupun William (para pendiri Tokopedia). Entahlah kalau tidak sampai ke telinga saya.

Di sekitar kuarter ketiga tahun 2011, di sebuah kafe di Grand Indonesia, saya berdiskusi dengan salah satu pendiri startup (yang akhirnya mendapatkan investasi sekitar 3,5 Miliar dari venture capital asal Jepang). Dia menanyakan ke saya, dari segitu ramainya startup Indonesia, mana yang kira-kira bakal bertahan lama atau berkembang pesat. Jawaban saya tetap sama, Tokopedia, walaupun saya sudah lama tidak mendengar kabar tentang Tokopedia. Oh, pilihan teman saya ini? Ya startup dia sendiri pastinya. Haha.

Magud

Lalu Agustus 2012, terjadilah kegemparan. Koprol akhirnya magud. Ya banyak faktor sih tutupnya. Faktor utamanya sepertinya karena CEO Yahoo kala itu (Carol) memutuskan untuk mengarahkan Yahoo menjadi perusahaan media, bukan lagi perusahaan teknologi. Walaupun akhirnya Carol pun dipecat, tapi nasi sudah jadi bubur. Koprol sudah ditutup. Founder asli Koprol waktu itu kabarnya mau meluncurkan ulang Koprol. Tapi sampai hari ini masih tidak kelihatan tanda-tandanya.

1,2 T

Dan, pada Oktober 2014, setelah dunia startup Indo lama senyap, terjadi kegemparan lagi. Tokopedia membukukan investasi senilai 1,2 Triliun Rupiah ! Nah, ramalan saya tahun 2009 jadi kenyataan. Koprol tidak bertahan lama dan Tokopedia mendulang sukses. Kalau waktu itu saya dan sahabat saya itu taruhan, saya sudah menang nih. Hehe.

 

Tapi itu dulu. Sekarang saya tidak lagi melihat Tokopedia sebagai perusahaan yang akan dijalankan jangka panjang (seperti eBay, atau Amazon). Sepertinya Tokopedia sekarang mengincar exit (ala Instagram, WhatsApp, dkk). Atau memang dari dulu targetnya exit ya?

Eh iya, Taobao kan belum masuk Indonesia tuh. Di China sana, eh.., Tiongkok kalau kata Pak SBY, Taobao kan besar banget. Ntar kalau dia nyusul “saudaranya”, Baidu, masuk pasar Indonesia, kan lebih masuk akal kalau dia akuisisi aja ketimbang bikin baru. Nah, apa itu target Tokopedia sekarang? :D Toh, role model nya William memang Jack Ma sih.

 

[UPDATE]

Tanggapan langsung dari William bisa dibaca di komentar di bawah.

Tipikal Pengendara Motor di Indonesia

Salah jalur, berlawanan arah, tidak menggunakan helm, dan dari seragam yang digunakan sih sepertinya juga belum cukup umur untuk punya SIM. Hampir semua hal dari pengemudi motor ini salah.

Tapi.., kalau sempat dia tertabrak mobil pribadi, kira-kira kita tetap bisa menduga siapa yang kemungkinan besar bakal dihajar massa. Logika kita kan sering kebalik-balik.

*foto dari Google Street View, lokasi di kompleks Citra Raya Tangerang.

Eh iya, ini bukan generalisasi semua pengendara motor ya. Saya sendiri lumayan taat mengendarai sepeda motor. Di lampu merah, kalau masih lampu merah yang menyala, saya anteng aja, sabar menunggu hijau. Menunggunya juga di belakang garis batas. Hasilnya? Saya diklakson dan diteriakin banyak orang “Wooy.. maju woy..! Masih kosong tuh di depan.”, atau “Oii..! Jalan aja, sepi gitu jalannya..!!”

Ya tidak semua amburadul, tapi banyak.. BANYAK.

Suara.com – Dalam Hitungan Bulan Masuk 40 Situs Terbanyak Dikunjungi di Indonesia

Masih ingat Suara.com ? Portal berita ini tergolong pendatang baru, baru diluncurkan di sekitar Maret 2014 lalu. Dan dalam hitungan bulan, hari ini (Oktober 2014) saya lihat di Alexa, peringkatnya sudah di posisi 40 untuk Indonesia. Ini artinya Suara.com adalah situs yang jumlah pengunjungnya tertinggi nomor 40 se-Indonesia (setidaknya versi Alexa).

Dulu saya sempat menduga kalau sumber trafik mereka akan sangat banyak didongkrak oleh SEO, berhubung brand “Suara.com” sendiri sepertinya belum seperti Detikcom. Dari info di Alexa tersebut memang awal-awal terlihat sumber trafik kebanyakan dari search (hampir 20% dari total trafik), tetapi ternyata belakangan hanya sekitar 5% nya saja dari hasil search.

Lalu darimana Suara.com bisa mencapai trafik sebesar itu dalam waktu singkat? Dugaan ngasal saya sih sebagian disumbang dari digital-ads. Cukup sering saya melihat iklan mereka di Facebook. Dan belakangan sudah cukup sering terlihat ada teman-teman saya yang share berita dari Suara.com. Cukupkah digital-ads menyumbang trafik begitu besar sehingga bisa mendongkrak trafik sebesar itu? Menurut saya sih tidak. Tapi saya tidak tahu darimana lagi sumber trafiknya itu berasal. Ya, bisa jadi memang pengunjung organiknya sendiri sudah tumbuh besar. Entahlah.

Tim redaksi Suara.com sendiri sepertinya juga mengalami perubahan (perkembangan), dan nama Yan Gunawan yang dulu tertera di halaman Redaksi sekarang tidak tertera lagi. Tetapi sepertinya Yan Gunawan tetap menjadi salah satu (?) pemilik portal berita ini.

Lalu akan kemana kah Suara.com setelah mencapai ranking 40 di Indonesia? Mari kita lihat nanti. ;)

 

Diet yang Paling Tepat dan Cara Cepat Kaya

Ada teori diet atkins, diet keto (low-carb), diet low-fat, food combining, diet low-calorie, 3-hours diet, intermittent-fasting, paleo diet, dst..dst. Masing-masing teori ini sebagian besar dicetuskan oleh mereka yang punya latar belakang akademik yang bukan sembarangan. Masing-masing teorinya pun didukung dengan berbagai riset yang diklaim ilmiah. Masing-masing punya pengikut, dan masing-masing punya cerita sukses……. dan cerita gagal.

Lalu mana sebenarnya teori diet yang paling tepat, yang paling cepat menurunkan berat badan?

Tunggu.

Pernah lihat atau minimal dengar tentang buku-buku atau seminar cara jadi kaya? Pernah menemukan orang-orang yang mengikuti petunjuk dari buku atau seminar tersebut lalu berhasil? Ada juga yang gagal?

Lalu sebenarnya mana teori tentang cara jadi kaya ini yang benar?

Kurang lebih jawabannya sama dengan yang di atas tadi menurut saya.

Konfirmasi dari Harvard Mengenai Karen Agustiawan (CEO Pertamina) yang Disebut Menjadi Dosen di Harvard

sumber foto : kompas.com – KOMPAS/RIZA FATHONI

Tadinya saya membaca di Kompas.com, Dahlan Iskan (Menteri BUMN) menyatakan Karen Agustiawan mundur dari posisinya sebagai CEO Pertamina. Tentunya banyak spekulasi yang beredar karena informasi ini. Dahlan Iskan lalu menjelaskan kalau Karen mundur karena mau mengajar di Harvard. Dahlan tidak menyebut Karen jadi dosen sih, cuma “mengajar”.

Kalau di Tribunnews.com, judul beritanya menyebutkan “Jadi Dosen Harvard Karen Agustiawan Mundur dari Pertamina”.

Tetapi saya tidak menemukan satupun media online yang melakukan cek silang ke Harvard untuk mengkonfirmasi hal ini. Dan entah kenapa, untuk hal ini saya begitu penasaran hingga saya mengirimkan email ke bagian PR nya Harvard (seperti tercantum di situsnya Harvard.edu) untuk mengkonfirmasi hal ini.

2 hari kemudian, inilah jawaban dari Daniel Harsha (Associate Director for Communications and Government Relations, Harvard Kennedy School) :

The Ash Center for Democratic Governance and Innovation is pleased to announce Ms. Karen Agustiawan’s appointment as a Senior Visiting Fellow at the Asia Energy and Sustainability Initiative (AESI) at the Harvard Kennedy School.  AESI is a research based collaboration among the School’s Ash Center, Belfer Center, and the Sustainability Science Program.  As a Senior Visiting Fellow, Ms. Agustiawan will conduct research relating to the intersection of innovation, energy policy and technology, and environmental outcomes in Asia.

For more information on AESI, please visit the program’s website at: www.ash.harvard.edu/Home/Programs/Institute-for-Asia/AESI

Daniel Harsha
Associate Director for Communications and Government Relations
Ash Center for Democratic Governance and Innovation
Harvard Kennedy School
79 John F. Kennedy Street, Box 74
Cambridge, MA 02138

Apa itu Senior Visiting Fellow? Silahkan googling sendiri ya. :P

Sportdio.com – Mampukah Menjadi Zappos.com-nya Indonesia?

sportdio
Seorang teman bercerita, di samping kerjaannya sebagai analyst IT, dia bersama 3 orang temannya meluncurkan toko sepatu online, Sportdio.com namanya. Kata “sport” di Sportdio sendiri digunakan sejak awal karena memang rencananya jika sudah cukup besar, mereka bisa ekspansi tidak hanya menjual sepatu, namun tetap di sekitar produk olahraga.

E-commerce bukanlah suatu hal yang baru, termasuk di Indonesia. Banyak yang sudah meluncurkan toko online. Mulai dari skala perorangan, paruh waktu, sampai dengan yang didukung oleh grup bisnis besar yang “dananya tak terbatas”. Mulai dari skala iseng-iseng, penjual serius sampai dengan distributor besar atau importir mungkin. Sportdio.com sendiri masuk kategori penjual serius, tetapi untuk saat ini belum masuk ke grup bisnis besar.

Para pendiri Sportdio adalah 4 orang anak muda, teman lama sejak jaman SMA. 2 dari antara mereka saat ini masih bekerja fulltime di perusahaan. 2 lagi sudah fulltime mengurusi Sportdio. Kenapa 2 orang tadi tidak resign dan fulltime juga di Sportdio? Apa mereka nggak serius? Nah, justru karena serius maka 2 orang masih tetap kerja sebagai karyawan. Dari perhitungan mereka, sebagai pemain baru, akan banyak dana yang diperlukan untuk belanja modal, operasional dan marketing. Dengan tetap bekerjanya sebagian dari tim mereka, maka paling tidak dalam kondisi tanpa penjualan pun, mereka masih tetap bisa beroperasi normal.

Secara bisnis, Sportdio.com sudah mencatatkan sejumlah transaksi tiap bulannya. Saya tidak tahu angkanya, yang jelas belum sebesar Zalora, Blibli, dan e-commerce kaliber raksasa lainnya itu.

Dengan konsep mereka yang fokus ke sepatu, tentu mengingatkan kita pada Zappos.com yang awalnya juga adalah toko sepatu online. Dan memang salah satu dari tim Sportdio juga pernah membaca bukunya Tony Hsieh (CEO Zappos). Bisa jadi mungkin inspirasinya memang dari Zappos.

Namun, jika merujuk pada Zappos, dari berbagai wawancara dengan Tony Hsieh maupun Nick Swinmurn (founder Zappos), kita ketahui kalau mereka pun sempat mengalami masa-masa di mana mereka hampir bangkrut. Tidak sekali dua kali. Tony Hsieh harus menjual apartemen-apartemennya satu demi satu demi menutup aliran kas Zappos. Bahkan 6 tahun sejak didirikan, Zappos belum mencapai BEP (Break Even Point). Nah, bukan tidak mungkin, Sportdio.com pun harus mengalami masa-masa ini. Karena seperti bisnis retail lainnya, biasanya pekerjaan berat di awal itu adalah marketing, yang dalam bentuk apapun tetap tidak sedikit biayanya.

Melihat keseriusan teman saya ini, apalagi salah satu dari timnya sebelumnya bekerja di salah satu perusahaan retail terbesar di Indonesia, saya rasa potensi mereka untuk bisa “mencuri” kue e-commerce di Indonesia cukup besar. Bukan tidak mungkin mereka akan jadi Zappos-nya Indonesia. Tinggal masalah berapa lama mereka kuat untuk “bakar duit” sebelum mencapai titik BEP, dan tentunya “duit siapa” yang mau dibakar? ;)

Media-Media Online Penyebar Fitnah

Semarak pemilu dan pilpres 2014 kali ini menyisakan satu bagian yang sangat mengganggu saya: media online penyebar fitnah.

Media-media jenis ini, sering membuat cerita narasi yang kontroversial. Dengan menghubungkan beberapa kejadian nyata dan fakta, dibumbui beberapa imajinasi dan cerita fiktif, dibuatlah artikel yang seolah-olah benar. Tidak lupa media abal-abal ini mendiskreditkan media-media besar yang sudah belasan atau puluhan tahun dianggap kredibel.

Biasanya media-media ini isinya sangat kental dengan nuansa provokasi berbau SARA. Tokoh-tokoh dengan latar belakang SARA tertentu diangkat profilnya dan dihubung-hubungkan dengan cerita fiktif lainnya. Kadangkala mereka melakukan rekayasa pengubahan gambar (image editing) demi memuluskan fitnah dan provokasi ini. Sambil tak lupa menuduh pihak lain lah yang melakukan rekayasa gambar.

Mereka yang Terpelajar

Saya maklum kalau mereka yang “termakan” tulisan-tulisan seperti ini adalah mereka yang secara pendidikan kurang, atau akses mereka ke media informasi yang akurat kurang. Jadi kemampuan mereka menyerap, mencerna dan memverifikasi informasi terbatas.

Yang sangat menyedihkan, mereka-mereka yang berpendidikan tinggi, sarjana dari kampus ternama, bahkan pernah melanjutkan studi tingkat tinggi di negara maju, menempati posisi tinggi di institusi ternama.. –pun ikut “termakan” cerita dan tulisan-tulisan abal-abal ini. Sedih sekali saya.

Sebenarnya, seringkali hanya dengan sedikit googling pun kita sudah bisa mengetahui bahwa tulisan tersebut nyata-nyata bohong. Dan lebih parah lagi, media yang sudah beberapa kali terbukti nyata-nyata berbohong, tetap dijadikan referensi oleh mereka yang dikatakan “terpelajar”.

Ada juga yang lucu, ada saja orang yang aktif menyuarakan di social media agar jangan termakan cerita HOAX (berita / tulisan fiktif dan fitnah), padahal selama ini orang tersebut sering membagikan tulisan dari media-media HOAX di akun social medianya. Lucu.

Saya tidak menyangkal kalau ada media besar dan kredibel yang condong ke pihak-pihak tertentu. Tetapi setidaknya mereka tidak “ngarang-ngarang berita yang nyata-nyata bohong”. Dan ini bukanlah pembenaran untuk menebar fitnah membabi buta.

Yang saya khawatirkan, jika propaganda fitnah seperti ini terus berlangsung, bahkan skalanya semakin masif, tidak menutup kemungkinan sebagian warga negara kita yang mentalnya masih “labil” itu akan bergerak liar. Akan banyak penumpang gelap jika hal ini terjadi.

Batasi Kebebasan Pers?

Di sisi lain.., saya juga tidak setuju jika kebebasan pers kembali dikungkung seperti jaman Orde Baru. Mungkin memang ini harga yang harus dibayar untuk kebebasan pers, tetapi janganlah kita mundur.

Semoga masyarakat kita semakin dewasa. Punya kemampuan mencerna dan memverifikasi tulisan dengan lebih baik.

University of Cambridge dan Kerajaan Majapahit

Image

University of Cambridge (Inggris) sering sekali disebut sebagai salah satu universitas top dunia, selain itu juga disebut sebagai universitas tertua no 2 di dunia. Universitas tertua no.1 di dunia adalah University of Oxford (Inggris), hanya saja tidak pernah ada catatan resmi dan sahih kapan pertama kali kampus top dunia ini didirikan.

Tahu tahun berapa University of Cambridge ini didirikan? Tahun 1209. Tua banget ya…? Kebayang gak seberapa tua universitas ini? Biar dapat gambaran aja ya, Kerajaan Majapahit yang sangat dibanggakan di sejarah kita itu.., berdiri nya tahun 1293. Iya.., Majapahit itu baru berdiri 84 tahun setelah University of Cambridge didirikan..!

Jadi waktu kita ngebayangin ksatria-ksatria jaman Majapahit itu saling beradu ilmu kanuragan, terbang-terbang di langit, naik kuda putih, dengan pukulan-pukulan dewa.., ingatlah, di rentang waktu yang sama di Inggris sana, ada mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar di kelas, atau melakukan riset ilmiah untuk perkembangan ilmu pengetahuan, atau mungkin sebagian sedang selfie dengan lukisan di kain kanvas.

Oh.., bukan, saya bukan bermaksud menganggap negara Indonesia rendah diri. Ini cuma mau memberikan gambaran saja, seberapa jauh Indonesia itu harus mengejar ketinggalannya dari negara maju seperti Inggris. Bukan hanya soal sains, tapi juga soal mental, Revolusi Mental kalo kata bapak yang itu. *eh* :P

*Eh iya kalau ada yang mau bikin film semi-fiksi, bisalah itu bikin cerita dengan latar belakang jaman Kerajaan Majapahit. Begini kali ya..

Salah satu patih dari Majapahit dikirim tugas belajar ke University of Cambridge, lalu jatuh cinta dengan wanita bule disana. Pihak kerajaan Inggris maupun Majapahit tidak merestui hubungan ini, hingga sang patih dipaksa pulang. Tetapi wanita bule tadi ternyata sudah hamil duluan. (ya.. nafsu birahi kan gak kenal jaman bro..)

Lalu, Sang pangeran Inggris yang dijodohkan dengan wanita bule tadi tidak terima, berlayar lah ia ke Asia untuk membalaskan dendamnya. Inilah cikal bakal penjajahan Inggris di Asia Tenggara.

Tapi plis, jangan masukin tokoh-tokoh siluman serigala yang masuk jadi cinta segitiga ya.., plis..