Seperti Inilah Sulitnya Membuat Satu Halaman Website

Sewaktu saja masih belajar HTML saja (jaman SMA), saya enggak pernah percaya kalau membuat satu halaman website static, bisa membutuhkan waktu 2 bulan, bahkan lebih. Karena secara teknis, tidak besar tantangannya. Tetapi setelah saya bekerja, ternyata kenyataannya seperti itu.

Saya ambil contoh. Halaman website yang perlu dibuat isinya hanya: judul singkat dalam format teks, satu video, dalam satu halaman website. Tidak perlu ada animasi, efek-efek aneh-aneh, kolom komentar, dll. Benar-benar hanya halaman website biasa, dan static (tidak ada informasi yang secara regular diupdate).

Bagi web developer, ini pun tergolong mudah. “Ahh elah.. Bikin satu page HTML. Kasih tag <h1> di judul. Videonya pake JWPlayer aja. Kalau mau agak bagus, pakai aja template-template jadi. Atau biar di mobile enak dilihat, pakai Bootstrap atau Foundation juga bisa. 20 menit juga itu jadi maahh…”

Kenyataannya? 2 bulan ! Beneran. Total waktu dibutuhkan dari permintaan itu disebutkan, sampai dengan akhirnya halaman website itu jadi, bisa jadi butuh waktu 2 bulan, atau bahkan lebih. Kenyataan itu keras bung. Di perusahaan-perusahaan besar ini awam terjadi. Kenapa bisa begitu? Begini contohnya:

Continue reading

Mungkin Blibli.com Lelah

Jadi, beberapa waktu lalu saya melihat harga tablet Nexus 7 32GB LTE di Lazada jauh di bawah harga rata-rata, 2,7jt. Normalnya sekitar 3,7juta. Saya jadi penasaran di Blibli.com kira-kira harganya berapa. Saya googling dengan kata kunci “nexus 7 blibli”. Keluar iklan dari Blibli di halaman hasil pencarian. Seperti ini isinya :

Wah.., jangan-jangan harga Nexus 7 emang lagi jatuh, pikir saya. Dan setelah linknya dibuka, yang keluar hanya halaman seperti ini:

Ah, sudahlah. Mungkin blibli.com sedang lelah.

Yang di Lazada? Besoknya saya cek lagi, harganya sudah kembali normal, 3,7 juta. Entahlah, apa adminnya salah input, atau waktu saya lihat itu lagi flash-sale.

Begini Pengalaman Saya Melaporkan SPT (Pajak Penghasilan) Secara Online

djp

Tahun 2013

Tahun 2013 lalu, saat masa pelaporan SPT saya diberitahu kalau fitur pelaporan SPT secara online sudah tersedia. Alamatnya djponline.pajak.go.id. Setelah mendengar presentasi tim dari kantor Pajak sekilas saya rasa agak ribet. Karena pembuatan dan aktivasi akunnya masih membutuhkan proses manual ke Kantor Pajak.

Jadi untuk bisa melaporkan secara online kita harus memiliki akun terlebih dahulu. Nah untuk bisa aktif, akun ini perlu verifikasi nomor e-FIN (Electronic Filing Identification Number). e-FIN ini dikeluarkan oleh kantor pajak. Nah disini perlu proses manual. Saya lupa detailnya. Saat itu dilakukan kolektif bersama rekan-rekan kerja saya. Jadi pokoknya tahu – tahu sudah dikirimin aja e-FIN nya.

Pengalaman mengisi SPT Online tahun 2013 itu juga tidak begitu bagus. Saya berhasil aktivasi, login, ganti password. Setelah logout saya gagal login lagi. Reset password, berhasil, login lagi, terus bingung cara isi form nya. Lalu saya logout lagi karena ada meeting. Kembali ke meja, login gagal, server down. Dst. Tampilan situsnya juga jelek menurut saya. Gak usah urusan desain deh,  layout (user interface) nya saja sudah membingungkan menurut saya.

Singkat cerita setelah beberapa kali percobaan, bersama teman-teman yang juga kebingungan, sebagian besar dari antara kami akhirnya berhasil menyelesaikan pelaporan SPT secara online ini. Tapi dalam hati kecil saya, saya curiga di tahun 2014 (yaitu tahun ini) nanti paling sistemnya berubah lagi, akunnya harus create lagi, dst. Disitu saya merasa sedihTM.

Lalu bagaimana kali ini di tahun 2014?

Continue reading

Bekerja dari Rumah Tidak Selalu Lebih Baik

Kalau dengar pembicaraan orang-orang di kantor, sepertinya banyak sekali yang kepingin “work from home”. Ceritanya kerja remote gitu. Enak, gak perlu habisin waktu macet di jalan. Bisa sambil ngurus anak. Bisa bebas pake baju, gak pake baju pun bisa.

Untuk urusan komunikasi gampang. Ada Lync (kalau yang pake Microsoft-based), bisa chat, video maupun audio call, bisa share screen bahkan remote desktop juga. Katanya lagi, toh dalam satu gedung pun kenyataannya seringkali komunikasinya email-email-an toh. Jadi sama aja.

Menurut saya sih, ada banyak hal yang akan lebih cepat dilakukan jika orang-orangnya bisa dikumpulkan dalam waktu yang singkat di lokasi yang sama. Yah ini selalu jadi perdebatan sih. Mungkin kapan-kapan saya bahas jadi tulisan sendiri.

Tapi, saya lebih melihat dari lingkungan sosial. Kalau kerja remote terus dari rumah, lalu dalam sebulan cuma 4 kali ke kantor, saya rasa tidak bagus untuk hubungan sosial dengan sesama rekan kerja, apalagi dengan kultur Indonesia yang “sangat sosial” ini ya.

Karena momen-momen kerja bareng di kantor, atau sekadar makan siang bareng, atau kabur sebentar beli snack sore itulah yang membangun keakraban. Dari situ kadang berkembang jadi piknik bareng di akhir pekan rame-rame. Keakrabannya akan terbentuk secara natural, tanpa perlu dibuat kegiatan tranining khusus dari tim HR. Ya, walaupun mungkin tetap ya, di belakang diam-diam saling menggosipi. Hehe.

Betul memang keakraban antar karyawan, dengan “engagement” karyawan ke perusahaan itu bisa berbalik kondisinya. Tetapi, keakraban antar karyawan sendiri saja sudah membuat suasana kerja menjadi lebih baik.

Yahoo dan (kalau tidak salah Hewlett-Packard) dulu termasuk yang jadi pionir untuk pola bekerja dari rumah ini. Tetapi dari yang saya baca, belakangan mereka malah mengurangi secara signifikan jumlah karyawannya yang bekerja dari rumah. Alasannya klasik, lebih mudah koordinasi dan komunikasi.

Memang tidak semua jenis bisnis, dan skala perusahaan cocok menerapkan sistem kerja dari rumah ini menurut saya. Apalagi kalau yang motivasi karyawannya bekerja dari rumah adalah: biar bisa sambil masak, nonton TV, main game, bikin kue. :D

Mengganti Jenis Huruf ala-ala Medium

Setelah belakangan sering membaca tulisan di Medium.com, akhirnya kepengen juga blog ini menggunakan jenis-jenis font yang mirip. Jadilah saya eksperimen mengganti font blog ini dengan Google Font. Namanya ‘Halant’. Sepertinya  lebih nyaman dibaca. Sebenarnya hampir mirip sih dengan ‘Georgia’, tapi untuk header (H1, H2, dll), jenis huruf ‘Georgia’ tebalnya agak kurang sedap dipandang.

Oh iya, saya baca dimana gitu, web-design itu 90% urusan tipografi, alias urusan huruf. Masuk akal sih. Cuma dengan mengganti jenis huruf aja (terutama website yang padat tulisan), kesan yang terlihat bisa jauh berbeda. Apalagi dengan sedikit perubahan warna huruf, jarak antar paragraf, dan ukuran besarnya huruf, (seperti yang barusan saya lakukan) kenyamanan membacanya bisa jadi jauh berbeda.

Pelajaran dari Mengikuti Lari 17km

sumber gambar: dunialari.com

5k, 10k, 17k, 22k, beberapa jarak yang sering jadi pilihan dalam acara lomba lari. Saya sendiri dulu cukup rutin lari di treadmills karena alasan yang cukup sederhana. Tapi untuk ikutan lomba lari yang sedang marak-maraknya kala itu saya masih enggan. Kayanya males aja gitu bangun subuh-subuh, pergi ke Sudirman cuman buat lari-lari. Ongkos pulang pergi taksinya aja udah berapa. Daftarnya bayar lagi, hih..!. Yeah.., I’m a cheap bastard. Haha.

*eh iya, buat yang awam ‘k’ itu maksudnya kilometer.

3K

Tapi akhirnya di Juni 2013 saya ikut lari 3K dalam acara Aquarius Sebelasthlon. Lari lucu-lucan kalau kata teman-teman saya yang sudah ikut lari 5k, 10k, dll. Kemudian di 2014, bulan Agustus akhirnya saya ikut Silverun, penyelenggaranya organisasi pengacara-pengacara pasar saham gitu deh. Entahlah apa namanya. Keduanya tentu saja gratis. Hehe.

11K

Untuk yang Silverun ini cukup jauh jaraknya, 10k. Sewaktu lari saya ikut tracking juga dengan aplikasi Endomondo di Android saya, jarak aslinya dari start sampai finish malah sebenarnya 11k lebih. Ternyata tidak seperti perkiraan saya, setelah selesai tidak capek-capek amat ya 11k itu, hehe. Entah karena saya gak ngoyo kali ya. Waktunya? 1 jam 9 menit 4 detik (kalo menurut Endomondo). Ya jelas saya bukan juaranya. Walaupun para pelari dari Kenya itu gak ikut pun, saya pasti gak bakal juara deh.

17K

Lalu, karena penasaran, dan juga karena (lagi-lagi), gratis, hehe, saya ikut Independence Run di bulan yang sama, tahun 2014. Saya pilih yang kategori 17k, karena cukup pede dengan hasil yang 11k kemarin. Saya baru tahu, ternyata lari di jalan itu tidak separah yang saya bayangkan.

Tapi, kali ini saya ceroboh. Orang-orang sering bilang, H-1 sebelum lari harus carbo loading. Biar energinya banyak. Berhubung 17k itu jarak yang jauh bagi saya, ya saya coba ikuti. Jadi jam 10 malam H-1, saya merasa saya perlu carbo-loading. Jadilah saya ke warung makan Padang terdekat. Dengan 1 rendang, 1 ayam goreng dada yang ukurannya jumbo, ketimun potong, daun singkong, gulai nangka, plus nasi porsi kuli, semuanya saya habiskan dalam tempo sekejap. Alhasil, kekenyangan membuat saya tidak bisa tidur. Berbaring saja sulit. -__-

Jadilah jam 2 lewat saya baru bisa tidur. Sementara jam 5 saya sudah harus berangkat, karena harus sudah berada di lokasi start pukul 5.30, sementara perjalanan ke depan Istana Merdeka diperkirakan butuh waktu 30 menit. Ini artinya saya paling tidak harus bangun pukul 4.45 pagi (gak pakai mandi lagi). Jadilah waktu tidur saya maksimum cuma 2 jam 45 menit.

Saya tiba di lokasi start agak telat, pukul 5.30 lewat sedikit. Sudah ribuan orang tumpah ruah. Karena banyak jalur kendaraan yang diubah, pak sopir BlueBird nya juga kagok. Saya dan teman saya memutuskan turun saja dekat Monas, dan dilanjutkan berjalan kaki. Dan ternyata, lokasi start nya masih jauh dari situ.

The Toilet

Yang apesnya, turun dari taksi, saya kebelet BAB. Berharap di dekat lokasi start ada toilet umum saya percepat langkah saya. Bener memang, ada toilet umum dekat lokasi start. 2 mobil jumlahnya. (Itu loh mobil yang khusus buat toilet itu, mobile-toilet kali ya namanya?). 2 mobil, dengan masing-masing antrian yang panjangnya sudah ratusan meter membuat saya makin gelisah. Sementara sebentar lagi Pak SBY sudah mau membuka start lomba lari.

Ok, tahan sajalah dalam hati saya. Nanti di tengah jalan panitia pasti sediakan juga toilet umum. Tiba tepat di garis start, sekarang saya jadi kebelet pipis. Double attack. Arrgghh.. Lalu Pak SBY mengangkat bendera tanda start dimulai. Demm..!

Saya berlari agak kencang, bukan karena berharap menang, tetapi berharap segera bertemu toilet umum. Di depan Sarinah saya sudah sempat kepikiran, mau mampir ke McDonald sekadar numpang ke toilet. Tapi.., ahh nanti juga ada toilet umum.

Melewati Sarinah, saya mulai cegukan. Berasa angin dari lambung mau keluar dari mulut. Lalu kuah rendang semalam seperti merangkak naik lagi ke tenggorokan. Mual. Mau muntah. Plus kebelet pipis dan BAB. Sempurna saudara-saudara..!

Strategi saya kalau lari adalah tetap lari sampai minimal 2/3 dari jarak tempuh, setelah itu baru boleh jalan sebentar, lalu lari lagi. Kali ini, boro-boro mau tetap berlari. Berjalan saja saya sudah senewen rasanya.

Panitia PHP

Di sekitar perempatan jalan layang depan Sampoerna Strategic Building, saya mendekati panitia lari (eh marshall ya istilahnya?). “Mbak, ini toilet umum gitu di sebelah mana ya? Dari Monas sampai sini saya gak liat. Kebelet nih.”, ujar saya mengiba. “Oooh.., terus aja lurus, Mas”, ujar si mbak panitia meyakinkan.

Dengan perasaan mual mau muntah, kuah rendang di tenggorokan, dan kebelet BAB, saya tetap berlari sampai ke sebrang Ratu Plaza. Saya hampiri lagi panitia. “Mas, ini ada gak sih toilet umum gitu yang di pinggir jalan. Kaya di start tadi itu loh?”. “Hmm.., kurang tahu ya, Mas. Mungkin coba deket puter balik nanti di Sisingamangaraja. Kayaknya ada deh di situ.”, ujar si mas dengan raut wajah yang tidak meyakinkan.

Jadilah saya tetap paksakan, lari, jalan, lari, hingga melewati bundaran Senayan, lurus terus ke Sisingamangaraja. Disini tempat putar balik jalur lari 17k nya. Di puteran itu saya tanya lagi panitia “Mbak, sebenarnya ada gak sih toilet umum gitu di pinggir jalan ini. Saya dari tadi kebelet. Katanya lurus aja. Sampai sini gak lihat juga.”. “Kayaknya gak ada deh mas setahu saya. Nanti mampir aja mas ke FX.”, ujar si mbak polos sambil membagikan tali berwarna hijau, penanda kita sudah beneran puter balik. Gak curang motong di tengah jalan.

Ahh.. PHP nih panitia.

Tanggung

Sampai di situ kebelet pipis saya sudah hilang sih. Tapi kebelet BAB, mual dan kuah rendang nya masih berasa. Ya sudah saya teruskan saja lari-jalan saya. Di dekat bundaran Senayan, saya berpikir untuk menyerah saja. “Ahh.., sudahlah. Saya ke Sevel Senayan itu saja. Kan ada toiletnya di atas. Abis itu pulang aja naik taksi.”. Tapi sebagian diri saya masih kepingin terus. Rencananya nanti di FX saja mampir ke toiletnya.

Lewat di depan FX saya tiba-tiba teringat. Dulu sewaktu car-free day. Saya ingat di depan Menara BCA, sering ada acara senam aerobik, nah di sebelahnya seingat saya ada mobil toilet umum. Ah ya sudah, di situ saja pikir saya. Lewatlah FX.

Lagi-lagi, saya harus menahan perut saya. Di depan Menara BCA hanya ada panggung tempat instruktur aerobik. Tidak ada penampakan mobil toilet umum. Saya sudah mau berhenti saja. Tapi berhenti kan enggak bikin saya bisa BAB ataupun muntah dengan lancar. Dipikir-pikir, mending saya teruskan sampai garis finish. Pasti ada toilet. Toh Monas sudah tidak jauh lagi.

Finish !

Melihat gerbang finish, saya menjadi semangat lagi. Bukan karena merasa selesai. Tapi yang ada di otak saya “Yeah.., akhirnya.., toileeeettt…!!”. Sekilas saya melihat catatan waktu di gerbang, 1 jam 46 menit. Sambil berlari, saya ambil medali 17k nya, sebotol air mineral, dan terus tetap berlari mencari mobil toilet umum. Nah itu dia..!

Ya, tetap saja antri toiletnya. Tapi antriannya cuma sekitar 8 orang, yang entah mengapa tiap orang rata-rata menghabiskan waktu hampir setengah jam rasanya. Sampai di sini saya rasa mual saya malah sudah hilang. Kebelet pipis sudah hilang dari tadi juga. Kebelet BAB nya masih. Mungkin karena saya menahan BAB sebegitu lama, akhirnya perut saya pun masih bisa sabar mengantri di belakang 8 orang ini.

Tapi si kuah rendang masih konsisten. Kelar urusan BAB, rasa kuah rendang semalam tetap lengket di tenggorokan, walaupun saya sudah minum air mineral barusan (sepanjang lari saya tidak minum sama sekali). Kuah rendanglah juara 17k saya ini. Hidup rendang..!

 

Ngeblog karena Komentar

Beberapa kali teman-teman saya yang sudah punya blog bilang, mereka sebenarnya pengen nulis rutin di blog. Tapi seringkali bingung apa yang mau ditulis. Terutama mereka yang menghindari menulis “ala diary”, alias tidak mau menceritakan kehidupan pribadinya di blog. Karena memang topik ini yang paling gampang dibahas di blog sih.

Nah kalau sudah buntu begitu, salah satu tipsnya adalah blogwalking. Ngunjungin blog-blog teman, atau “seleb online”. Mungkin ada aja satu dua tulisannya yang menarik. Bisa jadi anda tergerak untuk memberi komentar. Nah, daripada jadi komentar, mending jadi bahan tulisan anda sendiri saja. Hehe.

*mungkin itu kenapa sekarang komentar di blog sedikit kali ya? Haha.

 

Tawaran Asuransi dari Telemarketer Bank, Untung atau Rugi?

Beberapa kali saya mendapatkan tawaran asuransi (ehm, istilah mereka sih “Perlindungan Diri”) dari beberapa telemarketer bank, entah bank yang saya jadi nasabahnya, ataupun bank lain. Pada umumnya tawarannya kurang lebih sama seperti ini:

  • Biaya premi tetap selama 10 tahun
  • Di tahun ke 10 seluruh premi yang kita bayarkan akan dibayarkan 100% (tanpa potongan biaya apapun)
  • Melingkupi asuransi kesehatan, termasuk kematian. Bahkan ada yang bahkan kematian yang disengaja, alias bunuh diri (setelah 13 bulan jadi nasabah). Jadi kalau di bulan ke-14 stress, mau mati aja, bisa bunuh diri, nanti ahli warisnya dapat duit. Setidaknya begitu kata marketer nya.
  • Komitmen harus 10 tahun, jadi dibawah 10 tahun gak bisa menarik dananya.

Nah selain itu point-point di atas detailnya bervariasi. Misal, besar premi, detail cakupan yang masuk dalam asuransi, term pembayaran kembali premi, dan lain-lain.

Kalau anda kerja sebagai karyawan tetap di perusahaan, dan dari kantor sudah mendapatkan jaminan asuransi kesehatan, lalu karena UU yang baru, pasti juga mendapatkan asuransi BPJS, kira-kira untung atau rugi kalau mengambil tawaran asuransi seperti di atas? Mari kita ulas. Continue reading

Review Perumahan Graha Raya Bintaro

Jadi karena baca tulisan si Zam, kepikiran nulis ini. Kebetulan saya pernah survey langsung ke Graha Raya Bintaro.

Akses

Marketingnya pasti bilang dekat tol, aksesnya gampang, dll. Kalau pengalaman gue sih cukup sengsara ya.

Pintu tol yang terdekat (setahu saya) ada 2, Tol Alam Sutra, dan yang di JORR W2 (entah apa nama gerbangnya). Nah masalahnya kalau ke Tol Alam Sutra, kudu lewat Alam Sutranya. Sementara jalan tembus dari Graha Raya Bintaro ke Alam Sutra itu kecil banget. Saya naek angkot disitu, papasan angkot lain, keduanya harus saling melipir, padahal jumlah kendaraan yang lewat banyak banget. Macet lah pokoknya.

Jarak ke tol JORR W2 jauh juga. Harus melewati Pasar Ciledug, lalu via jalan Ciledug Raya. Ini jalur neraka deh. Macetnya parah beut.. Saya aja ya, waktu itu naik angkot putih kecil itu, dari pasar Ciledug ke arah Kebayoran Lama. Di tengah jalan, saking macetnya, si sopir ngomong ke kami para penumpangnya: “Maaf ya.., sampai sini saja. Nyambunga aja angkot belakang. Saya gak kuat lagi. Mau istirahat aja..”. Padahal itu angkot penuh ! Bayangin deh, sopir angkot yang hidupnya dari situ aja sampai nyerah. Dan setelah pindah ke angkot belakangnya, saya tertidur, bangun, tidur lagi, bangun lagi, dst, sampai akhirnya tiba di Kebayoran Lama. Dan sepanjang jalan itu emang gak ada apa-apa. Gak ada banjir, gak ada kecelakaan, gak truk nyangkut. Ya emang macet aja. Itu Minggu sore sekitar jam 4-an.

Kata seorang teman yang membeli rumah di sini sih, ada alternatif lain via Joglo. Nanti tembus ke Jalan Panjang. Joglo ini memang row jalan nya lebar sih, enggak kaya jalan Ciledug Raya. Tapi kalau musim hujan sering ada genangan air (baca: banjir) di situ.

Dari Graha Raya ada semacam bis shuttle nya. Tapi jumlah dan jam nya sangat terbatas. Tujuan akhirnya pun sangat terbatas. Kalau cuma buat iseng-iseng jalan-jalan di weekend mungkin cocoklah.

Nah ini terkait tulisan saya sebelumnya. Kalau andalannya cuma tol ya gini. Kalau udah macet, semua akses mati. Percuma mau naik angkot kek, shuttle bis kek, sepeda motor kek, mobil pribadi pun sama. Karena jalan yang dilalui ya sama, itu-itu juga. Alternatif KRL gak ada disini. Harus ke BSD atau ke Bintaro Jaya (Sudimara, Jurangmangu), yang jaraknya hampir sama aja dengan ke Jakarta. Kecuali kalau kalian aktifitas sehari-hari gak ke Jakarta sih ya gpp.

Lingkungan

Nah kalau soal lingkungan sih lumayan OK. Kesannya tidak se-elit BSD, atau Bintaro Jaya yang cluster mewahnya, lebih mirip ke Bintaro Jaya sektor 1-3 tapi yang cluster menengahnya. Kayakna kebutuhan sehari-hari juga sudah lengkap ya. Minimarket, resto cepat saji, makanan dan jajanan lucu-lucuan, tempat olahraga, dll cukup lengkap. Cukup bersih juga lingkungannya.

Tapi ada testimony juga dari teman yang lain. Waktu itu dia sudah mau beli rumah di sini. Sudah nego-nego, sudah janjian sama marketingnya, bahakan sudah bawa surat-surat yang diperlukan. Uang DP pun sudah siap. Dalam perjalanan menuju marketing office, dia melihat beberapa spanduk gede terpasang di lingkungan komplek tersebut yang bertuliskan “Kami menolak pembangunan [tempat ibadah] di lingkungan ini..!!!”. Ya apapun [tempat ibadah] nya itu, yang jelas teman saya langsung mati rasa seketika. Berputar haluan, dan mencari rumah lagi di lokasi lain. Kejadian ini sudah hampir 2 tahun lalu sih. Entahlah sekarang. Sewaktu saya kesana sih gak ketemu beginian.

Harga

Teman saya yang beli di kompleks Fortune, Februari 2014, tanah sekitar 85 atau 90 gitu, 2 lantai, dapat harga 800jt. Sewaktu saya kesitu (akhir 2014), mereka membuka cluster baru di kompleks yang sama. Dengan tipe yang sama persis, harganya sudah naik jadi 1,050 M (cash). Kalau KPR jadi sekitar 1,25 M. Sebagai perbandingan saja, di BSD City, cluster-cluster lama, dengan budget segitu, bisa dapat rumah dengan luas tanah 119. Tapi bangunan 1 lantai sih, dan usia bangunan sudah sekitar 7 tahun.

Ini review saya setelah 1 kali kunjungan ke lokasi ya. Ya gak beli juga sih, iseng aja, itung-itung jalan-jalan murah, ketimbang ke Bandung atau ke Jogja, haha.

Properti dan Kemacetan Jakarta

Jakarta macet penyebab utamanya sih menurut saya bukan regulasi, pengemudi ugal-ugalan, angkot ngetem sembarangan, dll. Faktor paling besar sederhana sih: jumlah kendaraan. Baik itu sepeda motor maupun mobil. Penyebab jumlah kendaraan banyak? Properti.

Membeli tempat tinggal yang layak di Jakarta sangat mahal. Bagi sebagian besar pekerja di Jakarta sampai generasi ketiga pun mungkin rumah yang layak (secara lingkungan, lokasi, keamanan, akses, dll) tidak akan terbeli. Jadilah orang-orang membeli rumah di pinggir Jakarta (Serpong, Cibubur, Ciputat, Tangerang, Bekasi dll). Dengan geser ke pinggir Jakarta, anda bisa mendapatkan rumah dan lingkungan yang jauh lebih baik (setidaknya untuk sekarang) dengan harga yang mendingan.

Dengan lokasi rumah yang begitu jauh, timbul masalah baru: transportasi. “Ahh, gampang, naik mobil saja”, biasanya begitu kata marketer perumahan. Toh sudah banyak tol kan? Sayangnya tidak anda sendiri yang berpikiran seperti itu. Ada ratusan ribu pemilik mobil lain (mungkin jutaan) yang berpikiran sama. Jadilah orang-orang mengendarai mobil masing-masing dari pinggir Jakarta, lalu berkumpul di pintu tol, dan puncak pestanya di jalur-jalur pusat perkantoran; Kuningan, Sudirman, Senayan, dll.

Sekarang coba lihat, perumahan-perumahan di pinggir Jakarta mungkin 98% nya pasti menjual kalimat: “Dekat ke pintu tol”. Iya, akses ke pintu tol mungkin cuma butuh 5 menit, tapi keluar tolnya berapa lama?

Sepeda Motor

Oke, naik mobil sudah makin gak masuk akal. Sebagian akhirnya “mundur”, memilih naik sepeda motor saja dari pinggir Jakarta. Sebagian lagi malah dari awal tidak pernah punya opsi naik mobil. Awal-awal lancar, banyak jalan tikus. Tapi mereka yang “mundur” dari pengguna mobil ini pun harus bergabung dengan mereka yang dari awal memang menggunakan sepeda motor. Jadi jalan tikus yang sejatinya memang untuk dilewati “tikus”, akhirnya dilewati “kambing”, dan belakangan jadinya “gajah”. Alias, jalan tikusnya pun sudah macet tak bergerak saking penuhnya sepeda motor yang lewat.

Bukan itu saja, tidak semua orang kuat setiap pagi naik sepeda motor 1 jam, panas-panasan, selip-selipan, makan asap dan debu, plus ribetnya urusan parkir. Karena parkiran sepeda motor sering dianaktirikan di gedung-gedung mewah.

*makanya kadang saya sedih juga mendengar para pengendara mobil (yang notabene gak pernah naik sepeda motor seumur hidupnya), mengatakan: “Gue setuju sih kalau semua sepeda motor dilarang lewat di Jakarta..!”. Kesian tauk. Iya, pengendara motor yang bajingan memang banyak sih, toh pengendara mobil yang bangsat juga gak sedikit kan?

Bis

Oke, sebagian memilih naik kendaraan umum aja akhirnya. Bis misalnya. Tapi ini masalah juga. Jangkauan bis itu terbatas. Jelas bis gak masuk ke perumahan. Jadi harus naik ojek dulu ke tempat bis lewat. Lalu bisnya juga belum tentu lewat tujuan akhir kita. Bisa jadi harus lanjut busway, ojek atau malah taksi kalau kepepet. Ini belum lagi jumlah bis yang terbatas, lewat sedikit habis lah sudah. Jadwalnya tak tentu. Dan.., karena sama-sama masuk dan keluar tol, ya kena macet juga.

Oh iya, secara biaya juga tidak murah. Naik ojek dari kompleks perumahan ke tempat naik bis anggap saja misal 10rb, bisnya 14rb (TransBSD misalnya), lalu sambung ojek lagi di Jakarta, 10rb. Totalnya 34rb, pulang pergi jadi 68ribu (dibulatin 70rb lah ya). Sebulan jadi Rp 1.750.000,-. Nah, nambah dikit lagi bisa kredit mobil Ford Fiesta tuh.. :D

Kereta

Beruntunglah kita punya orang seperti Pak Ignasius Jonan. Sewaktu dia menjabat dirut, PT. KAI direvolusi. Walau ada sedikit kontroversi disana-sini, tidak bisa dipungkiri kereta api kita sekarang sudah lebih baik, begitu juga KRL. Nah, KRL ini akhirnya jadi pilihan setelah mobil, sepeda motor, dan bis. Banyak juga orang yang dari awal memilih moda transportasi ini. Sudah *lumayan* nyaman (di jam tertentu ya parah sih padatnya), tidak ada macet-macetan (kecuali kalau ada gangguan), dan biayanya murah. Rawa Buntu, BSD – Kebayoran Lama hanya 2000 rupiah saja, lebih murah dari sebotol air mineral. Apalagi air mineral di club seperti Equinox atau Blowfish. *eh.. :P

Tapi, ya ini bukan tanpa tantangan juga. Bis saja (yang biasanya) bisa berhenti sembarang di pinggir jalan, belum tentu melewati tujuan akhir kita, apalagi KRL yang stasiunnya sudah pasti. Banyak orang yang tetap harus melanjutkan perjalanan dengan ojek setelah turun di stasiun. Karena ojeknya sadar posisi tawarnya tinggi, kadang harganya jadi gak masuk akal.

Dan PR yang paling besar dari KRL ini adalah integrasinya dengan moda transportasi umum lainnya. Stasiun Kebayoran Lama contohnya, keluar dari stasiun yang ditemui adalah.. pasar basah (err..becek sih lebih tepatnya). Ya ada sih angkot lewat, tetapi itu artinya harus naik angkot ini, lalu lanjut lagi naik busway atau ojek. Dan seperti stasiun Kebayoran Lama, stasiun Palmerah maupun Tanah Abang juga tidak terintegrasi dengan busway.

Bus Gratis

Jadi saya bisa mengerti kenapa ketika sepeda motor dilarang lewat di Thamrin, sedikit sekali yang mau naik bis gratis yang disediakan pemda DKI. Ya, orang naik motor dari Cisauk, terus harus parkir (misal di sekitar Senayan), lalu naik bis atau ojek ke Thamrin, baru naik bis gratis. Ini artinya, gak “gratis” lagi sih. Entahlah kalau pemda DKI punya pertimbangan lain ya.

Apartemen

Baiklah, sepertinya moda transportasi tidak ada yang betul-betul nyaman dari pinggir Jakarta. Sebagian orang bakal bilang “Oke, gue tinggal di Jakarta aja. Gak harus rumah kok. Gue di apartemen juga gak apa-apa sih. Yang penting ntar gak ribet lagi urusan transportasi”.

Nah, apartemen juga belum jadi solusi sempurna sih. Apartemen di lokasi strategis harganya tidak murah juga. Belum lagi masalah parkiran. Belakangan saya dikasih tahu marketing salah satu apartemen bahwa rata-rata apartemen kelas menengah di Jakarta itu, perbandingan jumlah unit dan parkirannya adalah 6:1 s/d 8:1. Iya, untuk 6 sampai 8 unit apartemen, hanya ada 1 space parkir. Saya sudah lihat sendiri, ada apartemen di sekitar Kebayoran Lama, yang penghuninya baru sekitar 30%-an, tetapi parkirannya sudah 80% habis. Padahal parkiran ini berbayar loh.

Ini belum lagi karena nakalnya developer apartemen. Sepertinya banyak developer yang memang membangun apartemen tidak dengan mindset untuk dihuni, tetapi sebagai instrumen investasi saja. Jadi makanya dia tidak perduli dengan space parkir yang tidak memadai, maintenance yang asal-asalan, fasilitas-fasilitas yang tidak kunjung dibangun setelah serah terima unit, dll. Karena mereka tahu, sebagian besar konsumennya adalah investor yang juga tidak akan melakukan pengecekan detail seperti penghuni akhir.

Yaa.., bisnis properti itu emang big money sih. Gak heran banyak yang nakal. Sony aja yang core business nya teknologi, sekarang main bisnis properti juga tuh.

Kesimpulan

Jadi kalau anda kerja di Jakarta, dan sudah menimbang-nimbang untuk membeli rumah (atau apartemen), beragam masalah di atas bisa masuk pertimbangan. Ini kaya kucing-kucingan memang. Beli rumah di pinggir Jakarta, sambil berharap transportasi umum makin baik, tapi sepertinya kok lama banget ya. Bisa 10-20 tahun mungkin. Beli di tengah Jakarta kok ya selangit harganya. Terus banyak juga masalah-masalah tambahannya. Kalau nunggu transportasi umum bagus dulu, keburu naik selangit harga properti di pinggir Jakarta.

Kalau saya boleh saran sih cuma satu: Carilah properti yang tidak hanya akses ke tol saja yang bagus, tetapi akses ke transportasi umumnya juga, kalau bisa KRL. Menurut firasat saya, KRL (dan MRT tentunya) akan jadi kuncian, seperti halnya di negara-negara maju.

Sayangnya situs-situs pencarian properti seperti Rumah.com, Lamudi.com, dan Urbanindo.com belum menyajikan fasilitas pencarian ini dengan baik. (Ntar saya bahas di tulisan tersendiri deh). Selamat menimbang-nimbang.