Tipikal Pengendara Motor di Indonesia

Salah jalur, berlawanan arah, tidak menggunakan helm, dan dari seragam yang digunakan sih sepertinya juga belum cukup umur untuk punya SIM. Hampir semua hal dari pengemudi motor ini salah.

Tapi.., kalau sempat dia tertabrak mobil pribadi, kira-kira kita tetap bisa menduga siapa yang kemungkinan besar bakal dihajar massa. Logika kita kan sering kebalik-balik.

*foto dari Google Street View, lokasi di kompleks Citra Raya Tangerang.

Eh iya, ini bukan generalisasi semua pengendara motor ya. Saya sendiri lumayan taat mengendarai sepeda motor. Di lampu merah, kalau masih lampu merah yang menyala, saya anteng aja, sabar menunggu hijau. Menunggunya juga di belakang garis batas. Hasilnya? Saya diklakson dan diteriakin banyak orang “Wooy.. maju woy..! Masih kosong tuh di depan.”, atau “Oii..! Jalan aja, sepi gitu jalannya..!!”

Ya tidak semua amburadul, tapi banyak.. BANYAK.

Suara.com – Dalam Hitungan Bulan Masuk 40 Situs Terbanyak Dikunjungi di Indonesia

Masih ingat Suara.com ? Portal berita ini tergolong pendatang baru, baru diluncurkan di sekitar Maret 2014 lalu. Dan dalam hitungan bulan, hari ini (Oktober 2014) saya lihat di Alexa, peringkatnya sudah di posisi 40 untuk Indonesia. Ini artinya Suara.com adalah situs yang jumlah pengunjungnya tertinggi nomor 40 se-Indonesia (setidaknya versi Alexa).

Dulu saya sempat menduga kalau sumber trafik mereka akan sangat banyak didongkrak oleh SEO, berhubung brand “Suara.com” sendiri sepertinya belum seperti Detikcom. Dari info di Alexa tersebut memang awal-awal terlihat sumber trafik kebanyakan dari search (hampir 20% dari total trafik), tetapi ternyata belakangan hanya sekitar 5% nya saja dari hasil search.

Lalu darimana Suara.com bisa mencapai trafik sebesar itu dalam waktu singkat? Dugaan ngasal saya sih sebagian disumbang dari digital-ads. Cukup sering saya melihat iklan mereka di Facebook. Dan belakangan sudah cukup sering terlihat ada teman-teman saya yang share berita dari Suara.com. Cukupkah digital-ads menyumbang trafik begitu besar sehingga bisa mendongkrak trafik sebesar itu? Menurut saya sih tidak. Tapi saya tidak tahu darimana lagi sumber trafiknya itu berasal. Ya, bisa jadi memang pengunjung organiknya sendiri sudah tumbuh besar. Entahlah.

Tim redaksi Suara.com sendiri sepertinya juga mengalami perubahan (perkembangan), dan nama Yan Gunawan yang dulu tertera di halaman Redaksi sekarang tidak tertera lagi. Tetapi sepertinya Yan Gunawan tetap menjadi salah satu (?) pemilik portal berita ini.

Lalu akan kemana kah Suara.com setelah mencapai ranking 40 di Indonesia? Mari kita lihat nanti. ;)

 

Diet yang Paling Tepat dan Cara Cepat Kaya

Ada teori diet atkins, diet keto (low-carb), diet low-fat, food combining, diet low-calorie, 3-hours diet, intermittent-fasting, paleo diet, dst..dst. Masing-masing teori ini sebagian besar dicetuskan oleh mereka yang punya latar belakang akademik yang bukan sembarangan. Masing-masing teorinya pun didukung dengan berbagai riset yang diklaim ilmiah. Masing-masing punya pengikut, dan masing-masing punya cerita sukses……. dan cerita gagal.

Lalu mana sebenarnya teori diet yang paling tepat, yang paling cepat menurunkan berat badan?

Tunggu.

Pernah lihat atau minimal dengar tentang buku-buku atau seminar cara jadi kaya? Pernah menemukan orang-orang yang mengikuti petunjuk dari buku atau seminar tersebut lalu berhasil? Ada juga yang gagal?

Lalu sebenarnya mana teori tentang cara jadi kaya ini yang benar?

Kurang lebih jawabannya sama dengan yang di atas tadi menurut saya.

Konfirmasi dari Harvard Mengenai Karen Agustiawan (CEO Pertamina) yang Disebut Menjadi Dosen di Harvard

sumber foto : kompas.com – KOMPAS/RIZA FATHONI

Tadinya saya membaca di Kompas.com, Dahlan Iskan (Menteri BUMN) menyatakan Karen Agustiawan mundur dari posisinya sebagai CEO Pertamina. Tentunya banyak spekulasi yang beredar karena informasi ini. Dahlan Iskan lalu menjelaskan kalau Karen mundur karena mau mengajar di Harvard. Dahlan tidak menyebut Karen jadi dosen sih, cuma “mengajar”.

Kalau di Tribunnews.com, judul beritanya menyebutkan “Jadi Dosen Harvard Karen Agustiawan Mundur dari Pertamina”.

Tetapi saya tidak menemukan satupun media online yang melakukan cek silang ke Harvard untuk mengkonfirmasi hal ini. Dan entah kenapa, untuk hal ini saya begitu penasaran hingga saya mengirimkan email ke bagian PR nya Harvard (seperti tercantum di situsnya Harvard.edu) untuk mengkonfirmasi hal ini.

2 hari kemudian, inilah jawaban dari Daniel Harsha (Associate Director for Communications and Government Relations, Harvard Kennedy School) :

The Ash Center for Democratic Governance and Innovation is pleased to announce Ms. Karen Agustiawan’s appointment as a Senior Visiting Fellow at the Asia Energy and Sustainability Initiative (AESI) at the Harvard Kennedy School.  AESI is a research based collaboration among the School’s Ash Center, Belfer Center, and the Sustainability Science Program.  As a Senior Visiting Fellow, Ms. Agustiawan will conduct research relating to the intersection of innovation, energy policy and technology, and environmental outcomes in Asia.

For more information on AESI, please visit the program’s website at: www.ash.harvard.edu/Home/Programs/Institute-for-Asia/AESI

Daniel Harsha
Associate Director for Communications and Government Relations
Ash Center for Democratic Governance and Innovation
Harvard Kennedy School
79 John F. Kennedy Street, Box 74
Cambridge, MA 02138

Apa itu Senior Visiting Fellow? Silahkan googling sendiri ya. :P

Sportdio.com – Mampukah Menjadi Zappos.com-nya Indonesia?

sportdio
Seorang teman bercerita, di samping kerjaannya sebagai analyst IT, dia bersama 3 orang temannya meluncurkan toko sepatu online, Sportdio.com namanya. Kata “sport” di Sportdio sendiri digunakan sejak awal karena memang rencananya jika sudah cukup besar, mereka bisa ekspansi tidak hanya menjual sepatu, namun tetap di sekitar produk olahraga.

E-commerce bukanlah suatu hal yang baru, termasuk di Indonesia. Banyak yang sudah meluncurkan toko online. Mulai dari skala perorangan, paruh waktu, sampai dengan yang didukung oleh grup bisnis besar yang “dananya tak terbatas”. Mulai dari skala iseng-iseng, penjual serius sampai dengan distributor besar atau importir mungkin. Sportdio.com sendiri masuk kategori penjual serius, tetapi untuk saat ini belum masuk ke grup bisnis besar.

Para pendiri Sportdio adalah 4 orang anak muda, teman lama sejak jaman SMA. 2 dari antara mereka saat ini masih bekerja fulltime di perusahaan. 2 lagi sudah fulltime mengurusi Sportdio. Kenapa 2 orang tadi tidak resign dan fulltime juga di Sportdio? Apa mereka nggak serius? Nah, justru karena serius maka 2 orang masih tetap kerja sebagai karyawan. Dari perhitungan mereka, sebagai pemain baru, akan banyak dana yang diperlukan untuk belanja modal, operasional dan marketing. Dengan tetap bekerjanya sebagian dari tim mereka, maka paling tidak dalam kondisi tanpa penjualan pun, mereka masih tetap bisa beroperasi normal.

Secara bisnis, Sportdio.com sudah mencatatkan sejumlah transaksi tiap bulannya. Saya tidak tahu angkanya, yang jelas belum sebesar Zalora, Blibli, dan e-commerce kaliber raksasa lainnya itu.

Dengan konsep mereka yang fokus ke sepatu, tentu mengingatkan kita pada Zappos.com yang awalnya juga adalah toko sepatu online. Dan memang salah satu dari tim Sportdio juga pernah membaca bukunya Tony Hsieh (CEO Zappos). Bisa jadi mungkin inspirasinya memang dari Zappos.

Namun, jika merujuk pada Zappos, dari berbagai wawancara dengan Tony Hsieh maupun Nick Swinmurn (founder Zappos), kita ketahui kalau mereka pun sempat mengalami masa-masa di mana mereka hampir bangkrut. Tidak sekali dua kali. Tony Hsieh harus menjual apartemen-apartemennya satu demi satu demi menutup aliran kas Zappos. Bahkan 6 tahun sejak didirikan, Zappos belum mencapai BEP (Break Even Point). Nah, bukan tidak mungkin, Sportdio.com pun harus mengalami masa-masa ini. Karena seperti bisnis retail lainnya, biasanya pekerjaan berat di awal itu adalah marketing, yang dalam bentuk apapun tetap tidak sedikit biayanya.

Melihat keseriusan teman saya ini, apalagi salah satu dari timnya sebelumnya bekerja di salah satu perusahaan retail terbesar di Indonesia, saya rasa potensi mereka untuk bisa “mencuri” kue e-commerce di Indonesia cukup besar. Bukan tidak mungkin mereka akan jadi Zappos-nya Indonesia. Tinggal masalah berapa lama mereka kuat untuk “bakar duit” sebelum mencapai titik BEP, dan tentunya “duit siapa” yang mau dibakar? ;)

Media-Media Online Penyebar Fitnah

Semarak pemilu dan pilpres 2014 kali ini menyisakan satu bagian yang sangat mengganggu saya: media online penyebar fitnah.

Media-media jenis ini, sering membuat cerita narasi yang kontroversial. Dengan menghubungkan beberapa kejadian nyata dan fakta, dibumbui beberapa imajinasi dan cerita fiktif, dibuatlah artikel yang seolah-olah benar. Tidak lupa media abal-abal ini mendiskreditkan media-media besar yang sudah belasan atau puluhan tahun dianggap kredibel.

Biasanya media-media ini isinya sangat kental dengan nuansa provokasi berbau SARA. Tokoh-tokoh dengan latar belakang SARA tertentu diangkat profilnya dan dihubung-hubungkan dengan cerita fiktif lainnya. Kadangkala mereka melakukan rekayasa pengubahan gambar (image editing) demi memuluskan fitnah dan provokasi ini. Sambil tak lupa menuduh pihak lain lah yang melakukan rekayasa gambar.

Mereka yang Terpelajar

Saya maklum kalau mereka yang “termakan” tulisan-tulisan seperti ini adalah mereka yang secara pendidikan kurang, atau akses mereka ke media informasi yang akurat kurang. Jadi kemampuan mereka menyerap, mencerna dan memverifikasi informasi terbatas.

Yang sangat menyedihkan, mereka-mereka yang berpendidikan tinggi, sarjana dari kampus ternama, bahkan pernah melanjutkan studi tingkat tinggi di negara maju, menempati posisi tinggi di institusi ternama.. –pun ikut “termakan” cerita dan tulisan-tulisan abal-abal ini. Sedih sekali saya.

Sebenarnya, seringkali hanya dengan sedikit googling pun kita sudah bisa mengetahui bahwa tulisan tersebut nyata-nyata bohong. Dan lebih parah lagi, media yang sudah beberapa kali terbukti nyata-nyata berbohong, tetap dijadikan referensi oleh mereka yang dikatakan “terpelajar”.

Ada juga yang lucu, ada saja orang yang aktif menyuarakan di social media agar jangan termakan cerita HOAX (berita / tulisan fiktif dan fitnah), padahal selama ini orang tersebut sering membagikan tulisan dari media-media HOAX di akun social medianya. Lucu.

Saya tidak menyangkal kalau ada media besar dan kredibel yang condong ke pihak-pihak tertentu. Tetapi setidaknya mereka tidak “ngarang-ngarang berita yang nyata-nyata bohong”. Dan ini bukanlah pembenaran untuk menebar fitnah membabi buta.

Yang saya khawatirkan, jika propaganda fitnah seperti ini terus berlangsung, bahkan skalanya semakin masif, tidak menutup kemungkinan sebagian warga negara kita yang mentalnya masih “labil” itu akan bergerak liar. Akan banyak penumpang gelap jika hal ini terjadi.

Batasi Kebebasan Pers?

Di sisi lain.., saya juga tidak setuju jika kebebasan pers kembali dikungkung seperti jaman Orde Baru. Mungkin memang ini harga yang harus dibayar untuk kebebasan pers, tetapi janganlah kita mundur.

Semoga masyarakat kita semakin dewasa. Punya kemampuan mencerna dan memverifikasi tulisan dengan lebih baik.

University of Cambridge dan Kerajaan Majapahit

Image

University of Cambridge (Inggris) sering sekali disebut sebagai salah satu universitas top dunia, selain itu juga disebut sebagai universitas tertua no 2 di dunia. Universitas tertua no.1 di dunia adalah University of Oxford (Inggris), hanya saja tidak pernah ada catatan resmi dan sahih kapan pertama kali kampus top dunia ini didirikan.

Tahu tahun berapa University of Cambridge ini didirikan? Tahun 1209. Tua banget ya…? Kebayang gak seberapa tua universitas ini? Biar dapat gambaran aja ya, Kerajaan Majapahit yang sangat dibanggakan di sejarah kita itu.., berdiri nya tahun 1293. Iya.., Majapahit itu baru berdiri 84 tahun setelah University of Cambridge didirikan..!

Jadi waktu kita ngebayangin ksatria-ksatria jaman Majapahit itu saling beradu ilmu kanuragan, terbang-terbang di langit, naik kuda putih, dengan pukulan-pukulan dewa.., ingatlah, di rentang waktu yang sama di Inggris sana, ada mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar di kelas, atau melakukan riset ilmiah untuk perkembangan ilmu pengetahuan, atau mungkin sebagian sedang selfie dengan lukisan di kain kanvas.

Oh.., bukan, saya bukan bermaksud menganggap negara Indonesia rendah diri. Ini cuma mau memberikan gambaran saja, seberapa jauh Indonesia itu harus mengejar ketinggalannya dari negara maju seperti Inggris. Bukan hanya soal sains, tapi juga soal mental, Revolusi Mental kalo kata bapak yang itu. *eh* :P

*Eh iya kalau ada yang mau bikin film semi-fiksi, bisalah itu bikin cerita dengan latar belakang jaman Kerajaan Majapahit. Begini kali ya..

Salah satu patih dari Majapahit dikirim tugas belajar ke University of Cambridge, lalu jatuh cinta dengan wanita bule disana. Pihak kerajaan Inggris maupun Majapahit tidak merestui hubungan ini, hingga sang patih dipaksa pulang. Tetapi wanita bule tadi ternyata sudah hamil duluan. (ya.. nafsu birahi kan gak kenal jaman bro..)

Lalu, Sang pangeran Inggris yang dijodohkan dengan wanita bule tadi tidak terima, berlayar lah ia ke Asia untuk membalaskan dendamnya. Inilah cikal bakal penjajahan Inggris di Asia Tenggara.

Tapi plis, jangan masukin tokoh-tokoh siluman serigala yang masuk jadi cinta segitiga ya.., plis..

X Ray

X-Ray

Barusan update mesin WordPress blog ini, setelah selesai saya baca ada fitur upload audio (audio gallery). Jadi tulisan ini sebenarnya untuk mencoba fitur itu aja sih.

Oh iya, musik di atas ciptaan saya sendiri. Ini salah satu yang saya maksud dalam tulisan saya terdahulu. Dari semua musik genre dance yang pernah saya buat, saya paling suka yang ini. Terasa menyenangkan setiap di dengar. Terutama ketika di dengarkan di jalan saat saya menuju suatu tempat yang menyenangkan atau seru. Pas di jalan mau ketemu gebetan misalnya. *eh. Haha.

Enjoy..!

Catatan: Lagu ini sebenarnya belum selesai, makanya di bagian akhir mungkin terasa agak kurang nyambung. Tapi beberapa berkas untuk membuat lagu ini tercecer entah kemana.

Peta Wisata Jogja 2014 oleh YogYES.com

Image

Mengunjungi suatu tempat wisata populer itu gampang-gampang susah. Soalnya rata-rata tempat wisatanya kita pernah dengar. Misal kalau di Jogja, kita sudah familiar dengan nama Candi Prambanan, Candi Borobudur, Pantai Parangtritis, Malioboro, Keraton, dll. Tetapi lokasi persisnya di mana, biasanya traveler pemula masih belum paham.

Mengingat biasanya waktu berwisata itu biasanya tidaklah panjang, hanya beberapa hari, maka perencanaan wisata yang matang itu perlu banget. Nginep dimana biar gampang menjangkau tempat wisata A, B, C dalam satu hari. Lalu hari kedua bisa gak mengunjungi D, E, F dalam satu kali jalan.

Nah untuk di Jogja, inisiatif YogYES.com untuk membuatkan peta wisata Jogja ini sangatlah membantu perencanaan wisata kita di Jogja. Lengkap dengan koordinat GPS nya cuy..! Dengan peta ini kita bisa tahu misalnya bahwa ternyata tempat wisata A, D, F itu ada dalam satu jalan. Jadi mending hari kedua baru ke B, C, E.

Cara dapetin petanya? Ada beberapa cara. Cekidot.

Apakah Menjadi Pengusaha Lebih Mulia?

Beberapa kali saya membaca tulisan yang menyebutkan bahwa menjadi pengusaha itu lebih mulia. Kenapa? Karena pengusaha itu membuka lapangan pekerjaan, yang berarti secara tidak langsung dia ikut membantu kehidupan keluarga para karyawannya. Jadi kalau karyawannya ada 10, dan masing-masing karyawan menghidupi 3 orang di rumahnya, dia sudah berjasa membangun kehidupan 30 orang.

Alasan lainnya, pengusaha itu harus mati-matian berurusan sama pajak, pemerintah, hukum, preman (terorganisir maupun tidak), dll. Karyawan gak tahu itu. Mereka tahunya kerja, terima gaji.

Lalu apakah ini berarti karyawan itu kurang mulia? Atau justru hina?

Jadi apakah pengusaha dengan 30 karyawan itu lebih mulia daripada guru-guru di pelosok desa yang hanya mengajar 10 orang, yang gajinya belum tentu dikirimkan, yang untuk makan sendiri pun susah?

Apakah pengusaha juga lebih mulia daripada buruh pabrik batu bata di desa-desa di Sumatra sana? Yang harus berjuang agar anak-anaknya sekadar bisa lulus SMP agar bisa kerja jadi office boy di kota?

Berarti Nazaruddin (yang ditangkap dan dipenjarakan oleh KPK) itu juga mulia dong. Berapa banyak proyek ajaib yang dia buat. Tiap proyek ini (contoh membangun rumah sakit), saja bisa menyerap 100 orang lebih tenaga kerja. Dan proyek dia bukan cuma ini. Bayangkan berapa ribu orang yang dia bantu dengan bisnis-bisnisnya ini.

Urusan hukum, pajak, pengadilan, preman, dll. Wahh.., Nazarudin kurang menderita apa coba. Belum lagi diadili di media. Persepsi publik. Keluarganya yang dibenci masyarakat. Karyawannya enak, cuma tahu kerja dan terima gaji. Jadi dia mulia sekali, begitu ya?

Saya masih enggak mengerti logika kalau jadi pengusaha itu lebih mulia.

Saya sendiri pengen juga jadi pengusaha. Tapi yang jelas bukan karena saya ingin jadi lebih mulia.

Tangan boleh di atas, tapi hati jangan.